Kamis, 25 Oktober 2012

Intimidasi

Totem serigala. Kubaca itu dalam secarik kertas di sebuah buku.
Tentang seorang pemuda dan sekawanan pejuang mengadu nyawa, dengan gerombolan taring dan cakar lapar. Mungkin lebih baik bila aku di sana.

Mongolia 1962, ketika panji merah bertandang ke padang rumput.
Mungkin lebih berani aku menantang segerombolan serigala lapar, dengan galah laso di tangan dan lembaran laken penghalang dingin.
Ketika daging domba menjadi makanan utama dan lolongan malam serigala jadi pelengkapnya.

Di sini, Indonesa 2012, bahkan aku tak mampu sekedar mengangkat kepala dan mengajakmu berkata-kata.
Ooh, bukankah ini si pengecut yang berdiri di depanmu, dengan kepala lesu tertunduk mengangan-angan apa yang akan disampaikan.
Hei, serigala itu tidak lebih mengintimidasiku.
Daripada kau yang duduk di tempatmu, ketika kita bertukar pandang, walau tanpa sengaja.

Akan kukumpulkan sedikit keberanian yang tercecer, sambil perlahan menguatkan kaki.
Lalu ketika tiba waktunya nanti, akan kubawa selembar kulit serigala, dan detak jantungnya.
Kupakai dan kutanamkan dalam dada.
Nanti, nanti, nanti, tiba waktunya.


*Sudah 2 hari dan masih tak punya nyali.*

Read more »

Kamis, 18 Oktober 2012

Lho, Saya Ini Sudah Haji.

Suatu ketika di Tahun 2011 Pak Abdul sekeluarga dipanggil Allah ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Alhamdulillah, semua berjalan lancar, sampai negara api menyerang..... *please stand by*

Alhamdulillah, semua berjalan lancar, dan Pak Abdul sekeluarga pulang ke tanah air dengan selamat. Kemudian, beberapa bulan setelah kepulangan Pak Abdul, keluarga Pak Budi -teman Pak Abdul- mengadakan walimahan nikah anaknya, tak lupa Pak Abdul diundang. Namun agaknya Pak Budi lupa menuliskan gelar "H." di depan nama Pak Abdul. Alhasil ketika surat diantar oleh pak pos, Pak Abdul protes,

"Lho, ini nama saya kok tidak ada "H"-nya, saya kan udah haji?"
"Lah, mana saya tahu pak, masih untung nggak saya tambahi "Alm." ujar pak pos ketus.

Sepotong cerita di atas mungkin sering kita lihat dalam kehidupan nyata ya, orang yang sudah berhaji pasti ada gelar "H" sebelum namanya, atau "Hj" jika yang bersangkutan wanita. Padahal jika kita lihat jamaah haji dari negara-negara lain, Arab, Malaysia, negara-negara Eropa, AS, bahkan negara api, sepulang berhaji tidak ada kok yang menambahkan gelar "H" atau "Hj" di depan namanya.

Karena memang dalam syariat Islam tidak ada ketentuan untuk menambahkan embel-embel tersebut. Cuma di Indonesia saja mungkin yang ada gelar seperti itu. Menarik ya negeri kita ini. Sukanya mengada-ada. Tidak jarang seseorang marah kalau tidak ada gelar "H" itu padahal sudah pernah pergi haji. Mungkin bagi mereka itu semacam kebanggaan, padahal itu toh ibadah, antara kita dan Allah. Tidak terlalu berbeda dengan puasa, zakat, dan shalat, semuanya bertujuan mendekatkan diri pada Allah.

Nah lo, sekarang timbul pertanyaan, kalau misalnya puasa dan shalat juga dikasih gelar semacam itu di depan namanya dikasih P atau S, artinya dia sudah sholat atau puasa. hehe. Nggak terbayang betapa nama orang Indonesia akan sangat panjang.

Jadi, sebetulnya itu pilihan kok, apakah mau memberi nama gelar H atau tidak, kembali pada diri kita masing-masing, kalau dirasa akan menimbulkan riya', ya mending nggak usahlah, tapi kalau tujuannya untuk motivasi orang lain, ya itu sah-sah saja, yang penting hati-hati

Jangan-jangan nanti kalau kita sudah bisa pergi haji sampai tiga kali gelarnya jadi "HHH" Triple H, alias HaHaHa.

hehe.

tulisan ini kalau menyinggung jangan dimasukkan ke hati ya, tapi ke otak dulu, coba introspeksi, kenapa tersinggung. mohon maaf lahir batin :D

Read more »

Rabu, 17 Oktober 2012

Reminiscence

Betapa bodoh, ketika dulu seorang pemuda mengejar bulan purnama di ufuk timur. Bukan bodoh mungkin, lebih tepatnya lugu. Lugu dan tidak tahu tentang sakitnya jatuh dari ketinggian. Dia mendapat pelajaran, jangan mencoba terbang jika belum waktunya, karena nanti pasti akan jatuh juga. Benar kan?

"Bagaimana dengan mereka yang sudah terbang? Padahal belum tiba waktunya bagi mereka untuk terbang!" dia berseru.
"Bukankah kau lihat mereka jatuh lagi?"
"Benar, tapi kebanyakan dari mereka terbang lagi. Bukankah ini berarti aku tidak punya semangat?"

Sayang, kenapa engkau tidak melihat bahwa tenaga mereka sudah berkurang. Mereka yang terbang sebelum waktunya, nanti akan kehabisan tenaga jika waktunya tiba bagi mereka untuk terbang. Seolah-olah mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan benar, tapi belum tentu bukan?

"Bukankah mereka selalu tampak segar? Tenaga mereka sepertinya akan tetap ada jika nanti tiba waktunya terbang. Sungguh, aku iri!"

Sayang, penampilan luar tampak sangat menipu, tapi apa yang didalamnyalah yang perlu kau perhatikan. Bahwasanya tenaga-tenaga mereka sudah habis, menggapai bulan purnama semu di ufuk timur. Belum lagi waktunya terbit. Terlalu cepat sepuluh tahun jika kau terbang sekarang. Biarlah mereka terbang sesuka hati, menggapai purnama semu itu. Ada satu yang menantimu jika tiba waktunya. Bukankah purnama semu hanya memberikan pepesan kosong? Jarang sekali yang menawarkan kenyataan.

Read more »

Minggu, 07 Oktober 2012

Sekokoh Batu Karang

Batu karang yang ada di laut begitu kokoh. Sejujurnya aku kagum pada batu itu dan sekaligus malu. Bagaimana mungkin, sebuah batu yang notabene tidak punya akal dan kecerdasan bisa bertahan walau setiap hari diterpa ombak. Pagi, siang, sore dan malam, dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu. Sedangkan kita, diterpa gonjang-ganjing kehidupan sehari saja sudah loyo, seolah Tuhan meninggalkan kita. Padahal kita diberi fasilitas otak, akal pikiran, bahkan fasilitas sholat, dzikir dan do'a, yang semuanya bisa dijadikan senjata menghadapi samudera kehidupan.

Mungkin sebagian dari kita bilang, "Yah namanya juga batu karang, yang dilawan kan cuma ombak, lha kita, yang dilawan masalah bejibun."

Hei, ya wajar lah kalau batu karang yang dihadapi itu cuma ombak, lha dia kan cuma dikasih modal badan, tanpa akal pikiran, otak, bahkan nggak bisa sholat, do'a, dan dzikir. Kita punya masalah mungkin sejuta bahkan dua juta, tapi jangan lupa, kita juga punya sejuta dan dua juta akal untuk menghadapinya.

Lelah menghadapi masalah? Itu manusiawi. Sedih? Wah, itu malah lebih manusiawi lagi. Namun, itu tidak boleh jadi alasan buat kita menyerah kalah dengan keadaan. Apapun masalah yang kita hadapi, yakinkan dirimu, kita lebih kokoh daripada batu karang. Sejuta dua juta masalah datang tidak akan jadi penghalang. Bukankah masalah yang datang itu akan menaikkan derajatmu?

Semangatlah, apapun yang dihadapi. Jadilah sekokoh batu karang.


(Sekedar penyemangat bagi yang dirundung masalah [termasuk penulis, hehe.] )
 

(Jangan takut! Jangan Sedih! Sesungguhnya Allah bersama kita!)

Read more »