Kamis, 30 Januari 2014

Bukan Kata Ajaib: Maaf!

Kau pernah buat masalah dengan seseorang? Mengecewakannya mungkin, membuatnya jengkel, kesal, marah, apalah itu kau sebutkan sendiri. Pernah? Pasti pernah. Rasanya, bohong kalau kau bilang kau tak pernah. Lalu, apa yang kau lakukan? Minta maaf! Pasti.

Maaf

Maaf itu bukan kata ajaib. Maaf menunjukkan penyesalan dan janji bahwa kau tak akan mengulanginya lagi. Mengulangi mengecewakan, mengulangi membuat jengkel, mengulangi apalah itu kau sebutkan sendiri yang membuat masalah. Ada sebuah frasa menarik dari belahan bumi bagian barat.

"You say sorry, but you are not sorry."

Terjemahan bebasnya kurang lebih, Kamu mengucapkan maaf tapi kamu tidak menyesal.

Kadang kita pikir dengan mengatakan kata maaf semua masalah akan selesai. Sayang sekali, maaf bukan kata ajaib yang dengannya semuanya akan selesai. Maaf hanya meredakan gejala masalah, sebagaimana Parasetamol menurunkan demam. Demam juga merupakan gejala penyakit. Apakah dengan redanya demam penyakit serta merta hilang? Belum tentu!

Solusi

Solusi lebih penting dari sekedar maaf.

Katakanlah kau memecahkan jendela tetanggamu. Maaf. Pasti kau akan bilang begitu bukan pada tetanggamu. Tapi apakah dengan maaf itu jendelanya akan kembali dengan ajaib? Tiba-tiba utuh seperti sedia kala? Tentu tidak. Belikanlah kaca baru atau paling tidak bantulah membersihkan pecahan kaca itu dan ketika tetanggamu hendak memasang, bantulah! Itu, baru solusi. Apakah kaca yang pecah kembali lagi? Tentu tidak. Tapi sekarang tetanggamu punya kaca baru yang fungsinya sama dengan kaca lamanya yang sudah pecah. Masalah selesai? Belum! Jangan ulangi lagi di kemudian hari. Sampai sini masalah baru selesai.

Maaf? Persetan dengan maaf. Bukan maaf yang dicari.

Solusi! Itu baru perlu. Itu yang dicari.

Karena semua orang bisa bilang maaf, entah dengan tersenyum, dengan merengut, bersungut-sungut, atau berderai-derai air mata. Tapi yang jelas itu cuma sampah jika tak diikuti dengan Solusi!

Solusi! Solusi! Solusi!

Read more »

Rabu, 29 Januari 2014

Sekedar Perhatian

Ikhlas. Tanpa pamrih.
"Itu seperti kau pergi membuang sampah,"
kata guruku suatu hari.
"Nak, pernahkah kau berharap sampahmu itu akan datang kembali padamu?"
Tentu... Tentu tidak guru.
"Nah, nak. Kau sudah belajar, kau sudah tahu. Terapkan dalam hidupmu."
Tapi... Guru, aku ini manusia. Tak bolehkah aku berharap sesuatu?
Aku berharap sedikit perhatian dari manusia.
"Nak, ingatkah kau pelajaran kita tempo hari?"
Ya, Guru, berharaplah hanya pada Tuhan yang satu.
Maaf Guru, manusia memang rakus,
tapi tak bolehkah sekedar meminta
sedikit perhatian untuk manusia yang ini.
Jari telunjukku berdiri
terarah ke hidungku, dengan jari tengah mendampingi.

Read more »

Senin, 27 Januari 2014

Resensi: Film The Raid: Redemption

Oke, kali ini saya menulis mengenai resensi film. Saya rasa kurang cocok kalau disebut resensi karena biasanya resensi itu untuk buku. Tapi ya sudahlah, nggak apa-apa. Yang penting sih isinya. Film The Raid tayang pada tahun 2011. Saya tahu, sudah dua tahun berlalu tapi sejujurnya saya baru lihat filmini dua hari yang lalu. Pff... Ketahuan banget saya ketinggalan film ya? Ya sudahlah. Tak apa

Tokoh utama dalam film ini adalah Rama (Iko Uwais) seorang anggota polisi yang harus meninggalkan istrinya yang sedang hamil demi melaksanakan tugas. Film ini bercerita tentang serbuan sebuah grup elit polisi yang dipimpin oleh Sersan Jaka (Joe Taslim) dan Letnan Wahyu (Pierre Gruno) ke apartemen milik Tama Riyadi (Ray Sahetapy) seorang bos kriminal yang kuat. Ia terlibat berbagai macam kejahatan, seperti perampokan, pembunuhan, dan kejahatan-kejahatan lain. Tapi yang terutama adalah kerajaan narkobanya. Dalam menjalankan aksinya, Tama memiliki dua orang kepercayaan, yaitu Mad Dog (Yayan Ruhiyan) dan Andi (Donny Alamsyah)


Dalam penyebuan ini, semua berjalan lancar, sampai lantai enam dimana seorang bocah memergoki tim elit ini. Bocah ini segera memperingatkan Tama melalui interkom yang terpasang di setiap lantai. Neraka dimulai! Tama memerintahkan penghuni apartemennya (yang saya simpulkan juga merupakan para kriminal) untuk menyerang tim elit ini. Jadilah pasukan itu menjadi bulan-bulanan para penghuni apartemen.

Satu persatu anggota tim mati. Menyisakan Rama, Bowo (Tegar Satrya) yang terluka, Letnan Wahyu, Sersan Jaka, dan Dagu (Eka Rahmadia). Mereka berlima terpaksa berpisah. Rama dibantu seorang penghuni yang taat hukum, Gofar (Iang Darmawan) merawat Bowo. Sedangkan Letnan Wahyu, Sersan Jaka, dan Dagu lari mencari rute lain. Sayangnya di tengah jalan, Sersan Jaka dibunuh oleh Mad Dog dalam pertarungan satu lawan satu.

Rama sendiri setelah merawat Bowo harus berhadapan dengan Andi, yang ternyata adalah kakaknya yang lari dari rumah. Rama tak mampu membujuk Andi untuk pulang, tapi Andi berjanji akan mengeluarkan adiknya itu hidup-hidup dari apartemen maut itu. Sayangnya tindakan Andi itu diketahui Tama melalui CCTV yang tersebar di apartemennya. Jadilah Tama memerintahkan Mad Dog untuk menyiksa Andi. Rama yang mengetahuinya berjuang menyelamatkan kakanya.

Di akhir cerita, Letnan Wahyu akhirnya berhasil menangkap Tama. Rupanya mereka berdua sudah saling kenal. Letnan Wahyu bukanlah orang yang baik, ternyata dia memiliki perjanjian gelap dengan Tama. Tama yang membocorkan rahasia-rahasia Wahyu akhirnya dibunuh. Wahyu sendiri akhirnya ditangkap setelah gagal bunuh diri. Andi berhasil memenuhi janjinya untuk mengeluarkan adiknya hidup-hidup walaupun dengan luka di sana-sini.

Film ini saya akui memang tidak banyak bicara. Lebih banyak bak buk dan dor dor nya. Hehehe. Tapi itulah yang saya suka. Film ini punya ciri khas. Nah, sebagaimana resensi yang lain, saya akan memberikan plus minus dari film ini. Sekedar opini saja.

Plus:
1. Tama Riyadi. Si Ray Sahetapy benar-benar cocok memerankan bos kriminal. Gayanya di film ini slengekan, jahat, culas. Seolah-olah ia bersenang-senang dengan kejahatannya. Bisa dilihat waktu dia mengeksekusi empat orang di kantornya sambil makan mi. Seolah-olah nyawa orang nggak ada harganya di mata dia. Kemudian Ray juga berhasil memainkan karakter yang berbeda. Benar-benar tenang, santai ketika penyerbuan. Tapi dia bisa memunculkan ekspresi panik ketika ditangkap Wahyu di akhir film. Salut bener dah sama orang ini

2. Mad Dog. Greget. Harus diakui, dibandingkan Joe Taslim, Iko Uwais, dan Doni Alamsyah, Yayan Ruhiyan a.k.a. Mad Dog berantemnya jago banget. Well, memang itu sudah diatur dalam skenario, tapi tetep keren cuy. Melawan Sersan Jaka yang notabene badannya hampir dua kali Mad Dog, kemudian dilanjut melawan kakak adik Rama-Andi. Wah, seru bener.

3. Umpatan di film ini bener-bener kerasa banget. Anda akan terbiasa mendengar Anjing, Bangsat, dan makian-makian lain di film ini.

4. Joe Taslim selaku sersan Jaka. Dia berhasil memainkan ekspresi wajahnya. Bagus banget. Penonton bisa merasakan kebenciannya pada Letnan Wahyu, juga kebingungan waktu Mad Dog menantangnya duel satu lawan satu.

Minus:
1.Bahasanya kaku. Jujur kaku banget. Terdengar terlalu sopan untuk ukuran film aksi. Misalnya seorang sniper yang berkata ke temannya, "Aku ambil yang kiri kamu ambil yang kanan." Haha. Terlalu sopan untuk ukuran penjahat.
2. Beberapa adegan humor juga ada di sini. membuat agak hilang gregetnya. Ketika Mad Dog menyeret mayat Sersan Jaka kemudian bertemu Andi di lift, juga ketika geng golok mendobrak masuk ke kamar Gofar. Mau tidak mau saya dipaksa tertawa gara-gara dua adegan itu.

Yah, saya rasa itu sih plus minusnya. Memang sebuah film nggak mungkin sempurna pasti ada kurangnya. Yang jelas film ini nggak cocok buat anak-anak, mengingat bahasa yang kasar dan adegan kekerasan. Ya, kekerasan cuy dimana-mana. Darah kayak nggak ada habisnya di sini.

Menurut saya, di sini Iko Uwais dan beberapa pemain lain, Yayan Ruhiyan, Joe Taslim, dan figuran-figuran lain, agak terlalu cepat dalam menyampaikan dialognya. Jadi kurang bisa didengar. Ya mungkin karena mereka terhitung baru dalam dunia perfilman. Bandingkan dengan Donny Alamsyah, Ray Sahetapy, dan Pierre Gruno yang notabene 'lebih senior'. Dialog-dialog mereka jelas dan bisa ditangkap dengan baik. Yah, tak apa lah. Cuma masalah jam terbang saja. :v

Oke, itu resensi dari saya. Bener-bener greget lah film ini.

Ini beberapa Screen Shot yang saya ambil dari film. Maaf, kualitasnya kurang sip. hehe.


 1. Makan mi sebelum mengeksekusi
 2. Greget. Mad Dog vs Sersan Jaka. "Ini baru asik, ini baru ada gregetnya. Ini mainan yang uga suka."
 3. Akhirnya keluar dari apartemen maut
4. "Anjing!" Kata-kata terakhir Tama Riyadi

Read more »

Sabtu, 18 Januari 2014

Resensi: Mata Kedua

Kategori                 : Fiksi/Novel
ISBN                      : 978-979-29-2098-7
Penulis                   : Ramaditya Adikara
Ukuran / Halaman  : 13x19cm  ⁄ 368 halaman
Edisi ⁄ Cetakan       : I, Pertama
Tahun Terbit           : 2013
Resensi oleh           : GM Paksi

Bagaimana rasanya jika seumur hidup kau divonis Tuhan menjadi seorang tunanetra. Marah kah? Kecewa? Sedih? Mungkin kau akan putus asa dan berteriak pada Tuhan, "Oh God! Why Me?!" Lalu Tuhan akan menjawab, "Why not?"

Ah, menjadi seorang tunanetra bukan halangan bagi Ramaditya Adikara untuk mengukir prestasi. Buku ini mengisahkan perjalanan Ramaditya Adikara, atau Rama~begitu ia dipanggil teman-temannya~dalam mengarungi lika-liku masa SMA.

Rama, yang terlahir tunanetra tidak mau menjadikan kekurangannya ini menjadi pembatasnya. Ia percaya bahwa semua manusia setara dan Tuhan sudah menciptakan semua makhluk-Nya dengan sebaik-baik ciptaan. 
Percayakah kau, ada seorang tunanetra yang jago main game~Mortal Kombat~yang bahkan aku yang bermata ini sulit menamatkannya? Percayakah kau ada seorang tunanetra yang jago karate, bahkan berantem melawan preman-preman yang menghajar temannya? Percayakah kau, ada seorang tunanetra yang melompat ke air menyelamatkan kawannya yang tenggelam? Kau tidak percaya? 
Bacalah buku ini, kau akan percaya bahwa seorang tunanetra juga mampu melakukan apa yang orang biasa bisa lakukan.
Terinspirasi dari kisah nyata Ramaditya Adikara, novel ini akan mampu menginspirasi pembacanya untuk menjadi seorang yang tulus, pribadi yang berkualitas, dan tidak menjadikan kekurangan kita sebagai alasan untuk berhenti berkarya.
Hanya saja ada kekurangan dalam novel ini menurut peresensi. Agak berlebihan rasanya membaca di akhir tulisan tentang seorang anak SMA yang menciptakan robot humanoid. 
Uh... Yea.... Right.... Humanoid. Robot mirip manusia, dikendalikan dengan remote. Uhmm... Ini setting tahun '90an kan? Tapi tak apa lah. Tak ada gading yang tak retak. Toh ini novel. Menurut saya hal-hal kecil semacam itu tidak masalah. Yang jelas pesan yang disampaikan benar-benar sampai kepada pembacanya.

Saya sarankan anda untuk segera mencari buku ini. Oiya, buku ini punya saudara kembar, judulnya 'Hati Kedua' saya masih belum sempat baca, jadi masih belum saya resensi. Maklumlah, kantong mahasiswa kurang dalam. Hahaha.

Nah, demikian resensi dari saya. Selamat menikmati bukunya. :D

-----------0o0-------------

Nah, dari sini sudah terlepas dari resensi 'resmi' tapi masih terkait buku itu. Ini pendapat saya tentang buku ini.
Selama ini saya suka membaca buku novel. Mulai dari novel luar negeri, dalam negeri. Banyak lah. Ada satu hal yang saya suka dari membaca. Ketika saya membaca, saya memikirkan adegan-adegan dalam bacaan itu dan terciptalah sebuah film yang apik yang eksklusif saya nikmati sendiri.
 Ketika saya membaca Guardian of Ga'hoole, saya bisa membayangkan diri saya sebagai Soren, burung hantu yatim piatu yang berpetualang menjadi pahlawan. Saya bisa merasakan udara di sekitarnya, saya bisa merasakan angin yang berhembus, saya bisa melihat bagaimana situasi pohon besar Ga'hoole. Banyak hal lainnya juga. Sama ketika saya membaca novel-novel lain, saya selalu bisa melihat lingkungan di sekitar tokoh utama maupun tokoh-tokoh yang lain.

Tapi novel yang satu ini beda. Yakin. Ketika saya menciptakan film di otak saya tentang Rama, saya tidak bisa melihat. Saya dipaksa menjadi seorang buta! Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kecantikan Rara, bagaimana judesnya Cindy kepada Rama, keluguan Dodo yang suka makan dan yang pasti gendut~seperti saya~ atau kekarnya badan Rhismal yang jago karate. Ah, benar-benar saya tak bisa bayangkan itu.

Saya iri pada sosok Rama, yang bisa mendapat bidadari secantik Rara, yang begitu tulus menyayangi Rama. Atau teman seperti Rhismal yang jago berantem. Well, saya juga punya teman-teman yang baik yang saya bisa banggakan. So i got that goin' for me, which is nice.
Agak melenceng dari topik, saya jadi ingat suatu joke dimana Gus Dur di suatu acara disun (baca: dicium) artis cantik dan yang melihatnya hanya bisa melongo. Gus Dur lalu berkata, "Lha saya kan nggak bisa lihat, sampeyan mbok ya jangan iri."
Tapi untuk kasus ini, saya benar-benar iri pada Rama yang mampu mengubah kekurangannya menjadi dorongan untuk membuatnya berkarya. Kekurangan satu indera tak membuatnya berputus asa. Ah, saya jadi ada dorongan untuk terus berkarya. Tak akan kubiarkan perut gendut ini menghalangi. Kalau Rama saja bisa, kenapa saya tidak?

Btw, beberapa hari yang lalu saya mengirim pesan via FB kepada pengarangnya, Mas Ramaditya Adikara. Saya tak berharap akan langsung dibalas, mengingat beliau orang sibuk mungkin besok atau agak malam sedikit. Tak disangka dua jam kemudian sudah ada pesan masuk dari Mas Rama. Ah, hal-hal kecil seperti ini membuat seorang pengagum sangat berbahagia. :3 Terlebih lagi beliau bilang akan mampir ke website saya ini. Wah, senangnya. 
So, Mas Rama, kalau anda membaca tulisan ini, tinggalkan pesan ya? Kalau buku saya terbit nanti, InsyaAllah akan saya kirimkan sebuah buat Mas Rama. 
Sekian resensi dari saya :D

Read more »