Rabu, 30 April 2014

Pergi

Suatu hari di bulan April, ketika langit masih setia mencurahkan tetesan air hujan.
"Akan segera berhenti," katamu "lalu matahari yang cerah akan bersinar lagi."
"Lis, mengapa aku tidak bisa dengamu?"
"Mengapa ya?" Dia tersenyum menggodaku. "Sudahlah Bang, dunia nggak akan berhenti."
Tapi buatku dunia berhenti. Rasanya masa depanku terkunci di situ, detik itu juga. Kupaksakan senyuman menghiasi bibir ini, menggantikan cemberut yang sedari tadi hinggap.
"Ya udahlah, maumu gitu aku bisa apa kan?"
"Kita tetap teman kok."  Tangannya memeluk pinggangku. Kudekap pundaknya yang tertutup jaket merah itu.
"Ih, Abang genit ah." Ia meronta ketika kulayangkan kecupan di keningnya. "Dilihat orang lho bang!" Dijepitnya hidungku cukup lama sampai memerah. Lalu ia sandarkan lagi kepalanya di pundakku. Ah, kau ini. Bagaimana aku bisa berjalan lagi kalau terus begini? Bangku taman ini menjadi saksi, betapa sulit untuk beranjak pergi.

Read more »