Kamis, 25 Oktober 2012

Intimidasi

Totem serigala. Kubaca itu dalam secarik kertas di sebuah buku.
Tentang seorang pemuda dan sekawanan pejuang mengadu nyawa, dengan gerombolan taring dan cakar lapar. Mungkin lebih baik bila aku di sana.

Mongolia 1962, ketika panji merah bertandang ke padang rumput.
Mungkin lebih berani aku menantang segerombolan serigala lapar, dengan galah laso di tangan dan lembaran laken penghalang dingin.
Ketika daging domba menjadi makanan utama dan lolongan malam serigala jadi pelengkapnya.

Di sini, Indonesa 2012, bahkan aku tak mampu sekedar mengangkat kepala dan mengajakmu berkata-kata.
Ooh, bukankah ini si pengecut yang berdiri di depanmu, dengan kepala lesu tertunduk mengangan-angan apa yang akan disampaikan.
Hei, serigala itu tidak lebih mengintimidasiku.
Daripada kau yang duduk di tempatmu, ketika kita bertukar pandang, walau tanpa sengaja.

Akan kukumpulkan sedikit keberanian yang tercecer, sambil perlahan menguatkan kaki.
Lalu ketika tiba waktunya nanti, akan kubawa selembar kulit serigala, dan detak jantungnya.
Kupakai dan kutanamkan dalam dada.
Nanti, nanti, nanti, tiba waktunya.


*Sudah 2 hari dan masih tak punya nyali.*

0 comments:

Posting Komentar