Minggu, 07 September 2014

Ketika Matahari Tenggelam

Ketika matahari tenggelam, sekelompok orang bersedih. Mengira bahwa cahaya yang menerangi hidup mereka telah hilang selamanya. Primitif. Yah, mereka memang primitif, karena tidak mengetahui bahwa matahari sesungguhnya tidak tenggelam. Hanya berpindah ke sisi lain bumi, menerangi belahan bumi yang lainnya. Sekelompok orang ini lalu berteriak-teriak histeris. Ada yang marah, ada yang menangis, ada juga yang mengutuk dan melempar-lempar tombaknya ke langit. Mereka kira setan yang mencuri matahari mereka. Sampai kegelapan akhirnya benar-benar menyelimuti mereka.

Mereka akhirnya duduk, kelelahan dengan usaha-usaha mereka yang tidak mampu mengembalikan matahari untuk bertahta di langit, menerangi mereka lagi. Perlahan bintang-bintang mulai muncul dari kegelapan. Lalu bersamanya muncul bulan yang tak kalah indahnya. Orang-orang itu mulai tersenyum. Ini mungkin tak begitu terang, juga tidak menghangatkan seperti matahari. Tapi kita tidak silau melihatnya, cahayanya yang indah dan lembut menyenangkan untuk dipandang mata.

Akupun, pernah silau. Terbutakan oleh cahaya terang yang terpancar. Cahaya yang begitu diharapkan untuk menuntun di kegelapan. Cahaya yang diharapkan menemani sepanjang hari. Hingga lupa rasanya, lupa betapa nikmatnya meraba-raba di kegelapan.

Ketika cahaya yang diharapkan redup dan menghilang, jiwa yang malang ini menangis, marah. Mencoba menawar-nawar dengan Tuhan. Lihat, bagaimana mungkin hambaMu bisa berjalan di kegelapan.

Tapi tanganNya tak pernah salah dalam menuliskan.

Lihatlah di sekelilingmu, ratusan banyak anak panah yang meleset. Juga ribuan peluru yang tak mengenai walaupun ditembakkan tepat ke arahmu. Karena Dia tak pernah menuliskan agar kau terluka olehnya. Pun demikian, dengan cahaya yang menyilaukan. Indah dipandang tapi membutakan. Mungkin Dia menuliskan agar cahaya itu tak memandumu dalam gelap. Hanya sekedar lewat, hanya sekedar mampir.

Percayalah, pada tangan yang menuliskan dunia. Bahwa bulan dan bintang akan terbit dan menemani, setelah mataharimu tenggelam.

Aku percaya.

0 comments:

Posting Komentar