Rabu, 12 Maret 2014

Satu Gigi Dicabut

Tiba-tiba saya bingung dengan apa yang saya cita-citakan selama ini. Rasanya belakangan ini hidup jadi nggak berasa. Rutinitas yang itu-itu aja, pergi kuliah, dengar ceramah dosen, pulang kalau ada tugas ya dikerjakan, kalau nggak ada tugas main. Tidur siang jam 1-3 karena semester ini nggak ada kuliah jam segitu. Kalau suntuk nongkrong di kantin, sekedar ngeteh, minum degan, atau kopi manis.

Tiba-tiba saya ragu, saya yang menggembar-gemborkan ingin jadi dosen lah, kuliah di luar negeri lah, ini-itu, belakangan dipikir buat apa sih? Buat apa saya mencita-citakan itu? Buat siapa...?

Mungkin ada benarnya postingan yang saya baca kemarin. Membiarkan seseorang pergi seperti halnya gigi sakit yang dicabut. Apakah kamu merasakan sakit lagi? Nggak! Hanya ada gap yang terasa di mulut yang tiap hari kita jilat untuk memastikan bahwa disana sudah nggak ada lagi sakit. Tapi, rasanya mulut jadi kosong.

Ketika menggosok gigi, ada sensasi yang nikmat dan menyakitkan. Merasakan gusi ini digosok dengan sesuatu yang kasar, sesuatu yang jarang, mungkin belum pernah dirasakan. Tapi kita terganggu dengan itu, sampai nanti gigi yang baru akan tumbuh atau mungkin gigi palsu dipasang di lubang itu.

Mungkin saya belum terbiasa dengan gigi yang sudah dicabut ini. Ya sudahlah. Memang perlu waktu untuk terbiasa. Semoga segera saya bisa menemukan passion yang sama seperti sebelum gigi itu dicabut.


0 comments:

Posting Komentar