Selasa, 18 Juni 2013

Layar

Entah kenapa, aku suka sekali laut. Pernah aku bercerita padamu? Laut. Ya, laut. Begitu dahsyat bukan keberadaannya? Kadang ia tenang, suasananya membantuku mengosongkan pikiran. Tak jarang ia menjadi monster ganas yang menelan kapal-kapal yang berkelana. Mungkin naluriku naluri pelaut. Aku selalu jatuh cinta dengan deburan ombak, gelombang pasang, karang, serumpun bakau, dan tentu saja ikan dan udangnya. Kau tahu apa yang paling membuatku rindu? Garam. Bau garam yang menari-nari seiring dengan hembusan sang bayu. Akan selalu ada tempat untuk laut di sudut hati ini.

Aku selalu teringat laut jika denganmu. Kau tidak bisa ditebak. Kadang kau begitu ceria, tenang, membuatku betah berlama-lama menikmati waktu. Ada kalanya kau berombak bahkan mungkin berbadai kalau aku bilang. Suasana itu, mampu menghadirkan ketakutan dalam hati ini. Walaupun kau mungkin tidak sedang marah. Sudah naluri pelaut untuk diam dan takut jika laut tiba-tiba bergelombang tinggi. Kalau aku hidup di zaman dahulu, kulemparkan awak kapalku satu-satu untuk menenangkanmu. Hahaha.

Aku selalu senang dengan kenyataan bahwa kaulah samudera yang luas dan aku si pelaut. Keduanya saling membutuhkan. Apa gunanya seorang pelaut, dengan kapal besar, tatto di sekujur tubuh, dan awak yang garang?  Jika tak ada laut yang dijelajahi. Apa gunanya Tuhan membentangkan samudera sejauh mata memandang? Jika tidak untuk dijelajahi. Aku membayangkan betapa kesepian laut tanpa adanya aku, pemberani yang mengarunginya.

Mungkin terlalu naif bagiku bukan? Jika aku berkata hanya akulah pelaut yang berani menaklukkan gelombangmu, menyusuri setiap arus, dan singgah di pantai-pantai eksotis di pulau-pulau tak bertuan. Karena nyatanya, pelaut lain pernah menaklukkanmu, sehingga kau tenangkan ombak untuknya dan kau perhalus karang-karang tajam dengan desir ombak. Agar tak terluka dia dan tak hancur kapalnya kena karang.

Mungkin, definisi kita tak lagi sama. Berlayar, bagimu dan bagiku, artinya berbeda. Fraksi-fraksi memori yang terkristal dalam sebongkah garam, selalu kubawa dalam sebuah botol kaca. Bening. Garam-garam yang kukumpulkan dari lautmu. Putih bersih. Sayang, lautan itu tak cukup luas untuk dua kapal.

Aku terlahir tangguh. Dibesarkan oleh gelombang, diasuh badai kencang. Aku ditakdirkan bernyali. Seratus, seribu setan laut dan iblis-iblis di kedalaman akan tunduk mendengar namaku. Suatu saat nanti. Tapi, aku dipaksa bersabar. Menanti gelombang itu tenang kembali, lalu aku berjanji, akan berlayar lagi.

3 comments:

  • Abi Mustofa says:
    21 Juni 2013 19.21

    samudera yang perlu dijajaki pelaut sayangnya pelaut lain telah menaklukanmu...
    dalemm banget rin..hehe

  • Anonim says:
    28 Juni 2013 21.54

    Lautnya udah nggak ori lagi. Udah sering ditaklukkan...

  • GM-Paksi says:
    9 Juli 2013 20.37

    pfft.. nggak ori katanya. :v wkwkwk

Posting Komentar