Selasa, 02 April 2013

Faraway Jet Inn

Faraway Jet Inn, sebuah penginapan yang jauh
Tempat beristirahat jiwa-jiwa petualang.
Faraway Jet Inn, sudah lama dicari, baru bertemu hari ini
kemana kau dulu hilang?
Bukankah namamu itu adalah sebuah permainan?
Aku benar bukan?

Faraway Jet Inn, penginapan yang jauh di ujung mata
hanya satu pintu, hanya satu kamar.
Mungkin, mungkin itu tempat bagi Marina Digger?
Seorang pengelana, seorang pengembara.
bukan, dia bukan penakluk yang kau kenal
hanya pengelana yang sederhana
hanya satu yang diminta
kunci kamar yang satu-satunya

p.s. bukan sekedar puisi. :P

Read more »

Minggu, 24 Maret 2013

Ujung Pena

Kukecup pena emas di tanganku, tintanya masih ada.
Pena ini menuliskan sejarah hidupku, asa, cita, cinta.
Pena ini pena ajaib kau tahu? Tuhanku yang menitipkannya
Langsung, tanpa perantara
Tak hanya satu warna meluncur darinya
Seratus, seribu, boleh jadi sejuta warna akan terpancar nanti
Tinggal pilih, buku mana yang mau ku isi
Sudah kuisi buku-buku hitam, merah, biru, juga putih
Kini tiba saatnya, aku berkelana bersamanya
Pena ajaib pemberian Tuhanku
Waktunya menutup sebuah buku
Lalu akan kucari lembar-lembar baru

Read more »

Selasa, 05 Maret 2013

Kisah Tiga Orang

Aku Joni, 27 tahun, broker. Aku tidak percaya pada mimpi-mimpi. Bukankah ia hanya bayangan-bayangan penuh tipu daya? Mana ada coba, orang yang bahagia hanya dengan mimpi-mimpinya. Mimpi itu sama buruknya dengan narkoba. Ekstasi, hash, opium, ganja, apalah itu kau sebutkan sendiri. Membawa jiwa melayang-layang, senang sesaat, lalu ketika kau bangun, yang ada hanya realita harus dihadapi. Sama bukan? Obat - obatan itu juga hanya membawamu senang sesaat. Mimpi juga yang membawaku terbang, tinggi, dalam angan-angan di mana suatu hari nanti kami akan duduk berdua di taman, lalu aku menyerahkan sebuah cincin kepadanya sebagai pengikat hidup kami berdua. Akhir yang bahagia, seperti dalam tiap-tiap dongeng klasik. Lalu, takdir yang membawaku kemari, dengan mengambilnya dariku, di sebuah taman di tengah kota.

Aku Roy, 20 tahun, bukan siapa-siapa. Ya, aku memang bukan siapa-siapa. Untuk apa menjadi "siapa-siapa" di dunia ini, kalau akhirnya hanya untuk dihujat, dijatuhkan, lalu dilupakan. Lebih baik untuk tidak menjadi "siapa-siapa" bukan. Aku bukannya tak punya pekerjaan, hanya saja, pekerjaanku fleksibel. Kapan pun aku bangun tidur, ya aku mulai kerja, ketika lelah, tinggal duduk di dipan lalu istirahat. Tidak ada boss, tidak ada aturan-aturan ribet, kerjanya pun menyenangkan, cukup acungkan pisau, uang datang. Kadang-kadang yang datang jam tangan, cincin, kalung, sesekali anting-anting. Ya, tak apalah, toh kalau ku jual hasilnya juga uang.  Aku ingat beberapa hari lalu di taman Malabar, hutan kota itu, ada orang berduaan. Asyik dan syahdu sekali nampaknya, lumayan sasaran empuk, mumpung dompet lagi kosong. Kuminta uang, mereka bilang tak ada, lalu kuminta perhiasan. Wanitanya hanya memberiku sebuah cincin emas, pelit benar orang-orang ini, kutusuk saja dia biar kapok, lalu aku lari, tertawa puas. Kudengar sayup-sayup orang minta tolong dibelakang.

Aku Monika, 24 tahun,  mahasiswi. Dunia begitu kejam. Bayangkan sudah berapa nyawa diambilnya dalam 24 tahun hidupku ini. Bapak, Ibu, Mas Rudi, terakhir si Lukman. Membuatku menjadi sebatang kara. Satu-satunya pewaris nama keluarga Suseno, keluarga terkaya di kota kecil ini. Tapi kekayaan tak membuatku bahagia. Segala harta benda, tumpukan uang, kilauan cincin berlian, megahnya istana tempatku tinggal, tak mampu menutupi kekosongan dalam jiwa ini. Mungkin cuma dia, calon suamiku, yang mampu sedikit demi sedikit menutupi kekosongan itu. Aku bertemu dengannya dalam sebuah kunjungan di bursa saham tahun lalu ketika aku sedang ada field trip. Perkenalan kami berlanjut, dia tampaknya juga ingin serius denganku. Aku benar-benar cinta mati padanya. Suatu ketika, dia datang menjemputku lalu mengajakku ke sebuah taman, berjalan kaki. Lalu di bangku taman, dia sematkan sebuah cincin emas di jariku, dia bilang itu tabungannya selama bekerja. Cincin itu murah buatku, tapi ketulusannya menggetarkan hatiku. Sayang, aku harus meninggalkannya sepulang dari taman. Seorang preman menodongkan pisaunya kepada kami dalam perjalanan pulang, dia meminta cincin yang tersemat di jariku ini. Dengan berat hati kuserahkan cincin pemberian calon suamiku itu, tak apalah, yang penting kami selamat, pikirku. Tak kuduga preman itu menusuk kan pisaunya tepat di perutku, aku langsung jatuh. Kekasihku berteriak minta tolong, tapi aku tahu itu percuma, perlahan kesadaranku mulai menghilang. Lima menit kemudian kulihat Bapak, Ibu, Mas Rudi, dan Lukman di sampingku, mengajakku pergi ke rumah baru. Aku menoleh ke belakang dan kulihat tubuhku di atas pangkuan kekasihku. Dia menangis.

Read more »

Selasa, 26 Februari 2013

Tugas Ekonometrika

Malam sudah datang dan aku tak tahu apa yang harus diperbuat dengan selembar halaman kosong di layar laptop. Tugas. Zona putih itu harus kuiisi dengan kata-kata yang aku sendiri tidak tahu maksud dan tujuannya. Ngglambyar ke sana sini. Lalu kurehatkan sejenak mata ini. Kasihan dia, dari tadi siang menatap layar ditemani otak yang berusaha menerjemahkan simbol-simbol di buku untuk dituangkan menjadi karya baru yang sering orang sebut rangkuman. Kasihan organ-organ tubuhku.

Read more »

Minggu, 24 Februari 2013

Flash Fiction (5)

Menjemput Boy

"Mana ini keluarganya?" Dino melihat jam, "Udah tiga jam kok belum diambil."

Jenazah di ruangan itu sudah mulai mendingin. Tadi siang ada kecelakaan mobil di depan rumah sakit. Korbannya satu, pejalan kaki. Mobil warna merah yang dikendarai wanita cantik itu tiba-tiba pecah ban, tak mampu dikendalikan, oleng sini oleng sana sebelum akhirnya menabrak si Boy yang sedang melintas di trotoar depan rumah sakit. Pertolongan langsung datang, sayang Boy tak terselamatkan. Pakdhe Hendro, satpam di rumah sakit itu, adalah tetangganya. Ia langsung menelepon keluarga Boy agar segera menjemput Boy. Rumahnya dekat, hanya 10 menit perjalanan.

"Mana Pakdhe, katanya sepuluh menit, sudah malam ini, mana shiftku mau habis." Dino semakin gusar
"Sabar to le, ya mungkin mereka itu lagi siap-siap, nyiapin kuburan, nyiapin rumah buat tahlilan, tunggu aja."
"Pokok'e Pakdhe, lima menit nggak datang, aku pulang, istriku udah nunggu di depan tuh. Jenazah ini biar suruh pulang sendiri.'

Lalu tanpa banyak cakap si Boy bangkit dari kasurnya menutup badannya dengan selimut dan berjalan pulang meninggalkan Pakdhe Hendro dan Dino.

Read more »

Powered By Blogger