Rabu, 11 Juli 2012

Enigma. . Kapan Berlalu

Just another sob story. Yah, story of my life. Somehow life get worse day by day. Yang ini lah, yang itu lah. Mungkin sudah sifat pribadi manusia untuk banyak mengeluh ya. Hehehe. Mengejutkan di hari itu. Hari minum STMJ, plus jinten untukku -katanya sih obat segala penyakit-, not bad, rasanya manis dan hangat. Lalu datang juga info itu, *duerr* berasa disamber petir di siang bolong.

Dari lima orang yang keluar malam itu, empat diantaranya sudah punya kekasih, ada yang baru 3 bulan, baru 2 bulan, sudah 1 semester, dan 2 tahun. Oh God.. why....

Guess what, semua yang sudah ada pendampingnya itu bukan aku. Mirip seperti postingan di salah satu situs humor, *ehem* 9Gag *ehem*. . . Dalam postingan itu kurang lebih intinya

*The Moment when you realize, you're the only one in your groups that haven't get laid yet.*




Oh god, postingan yang jadi kenyataan. Ternyata kejadiaan ke saya. huhu . . . sejujurnya, nyesek juga, tapi harus dikuat-kuatkan lah. haha. semua ada waktunya, dulu saya udah pernah, mungkin sekarang giliran saya. tapi ya.. kok pas banget saya sendirian. . huhu. walaupun semuanya LDR tapi tetep. things won't be the same. .

I would like to not give a fucks, but, somehow i just can't

Dan sekarang waktunya untuk menatap ke langit, dan berkata. . . Couples . . Couples everywhere. . . nasib..

Ooh, enigma. somehow LDR membuat sesek ini sedikit lega. bayangkan seandainya SDR, shor distance relationship.  .  .  .  .


I'M DOOMED . .

Read more »

Rabu, 04 Juli 2012

What A Day!!

Beban yang lepas hari ini kembali menghantui. Oh, entah kenapa arus nasib membawaku kesini. Aku ingat, pernah bahagia karena beban itu sudah lepas, sudah pergi meninggalkan ransel yang kuletakkan di sudut ruangan. Mungkin bukan seperti itu, beban itu bisa jadi tidak pernah meninggalkan tempatnya, hanya saja aku yang kembali menggendong tas itu. Tas berat yang menekan punggung. Entah kenapa ketika aku membawanya, kupu-kupu beterbangan dalam perut. 

Ya, padahal sudah aku putuskan, untuk tidak membawanya lagi, bahkan aku sudah berikrar:

"Akhirnya beban itu lepas sudah, ada jalan baru yang harus kutempuh. Sudah cukup hidup di masa lalu. Karena aliran kita toh sudah terpisah. Yah, ada beberapa yang masih kusimpan, dalam ponsel tua ini. Biarkan itu tetap tersimpan"

Pelajaran hari ini, jangan membuat janji yang tidak bisa kautepati. Tapi, Hey! Itu sebuah janji yang bagus bukan?

Entah kenapa ransel itu masih kugendong, kubawa berkeliling ruangan. Lelah? Penat? Ya sudah tentu. 

Aliran kita memang sudah terpisah, tapi kurasa tak ada salahnya bila sesekali aliran itu bertemu. Itukan takdir Tuhan. Bolehkan jika aku sejenak menikmati hanyut dalam arus, apa dayaku melawan kuasa Tuhan? Semoga itu bukan dorongan dari setan. 

Takdir ya takdir, ada kalanya menyesakkan, ada kalanya menyenangkan. Ada kalanya mereka datang berdua sehingga kau bingung apakah kau harus sesak atau senang. Atau terlalu senang hingga dadamu sesak.

Read more »

Rabu, 27 Juni 2012

Maaf! Jihadku Belum Sampai

Maaf, saudaraku, belum bisa aku berkunjung ke tanahmu lalu menepis duka.
Di wajahmu, di wajah masyarakatmu.
Maaf, karena di sini di tanahku, setan masih senang berkunjung.
Aku pun berjuang di sini.
Hanya sedikit beda kita, kau menenteng senapan dan sepotong perisai tutup kaleng.
Juga granat-granat kecil batu kerikil.
Aku pen menenteng sesuatu dalam tanganku. Sepotong pena, penghapus, dan buku.
Belum serius pula aku dalam perjuanganku.
Maka maafkanlah, bukankah aku hanya akan menganggu, jika berangkat dengan setengah niat.
Saudaraku masih banyak yang lapar, bodoh, dan tersiksa.
Sayang, bukan karena mereka malas, bukan pula kurang gigih.
Tapi tangan-tangan yang memegang roda kemudi yang tiada punya peduli.
Begitu aku selesai dengan urusan di sini, tunggulah, tunggulah, aku akan ke sana.
Paling tidak doaku sudah sampai ke sana. Menemanimu.

Read more »

Minggu, 17 Juni 2012

Sweet Sweet Revenge: Damn True Story.

Kisah dimulai pada suatu hari beberapa bulan sebelum unas 2011. Seorang pria punya seorang sahabat, seorang wanita, yang sangat dekat bahkan kalau boleh dibilang kayak orang pacaran. Pada waktu itu, si pria *ehem* masih punya pacar, bukan si wanita itu, tapi seorang wanita yang lain, the special one.

Well, anyway, suatu hari tanpa disadari si pria terlalu nempel sama someone specialnya, hingga membuat sahabatnya, si wanita, kecewa karena nggak diperhatikan. Beberapa hari kemudian si pria coba bicarakan masalah itu. Untung deh, sahabatnya mengerti dan memberi maaf, walaupun lewat obrolan yang alot, thank God...

Dikarenakan ujian menjelang maka si pria dan the special one memutuskan mengambil jeda menanti unas. Somehow he know , this break is forever.. Jelas, si pria galau, tapi ya mau gimana lagi.

Anyhow, satu-dua bulan jelang pertempuran hidup mati, si wanita, sahabat si pria, jadian dengan seseorang yang lain di dalam kelas mereka. Somehow, si pria tahu, this is payback time. Si wanita mulai pindah duduk dengan kekasih, meninggalkan si pria dengan dua orang sahabatnya yang lain. Si pria awalnya tidak peduli, toh dia juga sudah ijin sama gue mau nemenin pacarnya, kata si pria dalam hati.

Hari-hari berlalu, ternyata si pria makin galau, benar-benar payback time. Si wanita jadi jarang memperhatikan si pria dan lain sebagainya. Untung si pria masih disibukkan game, tapi ternyata masih galau juga. . -__- repoot. . .

Itulah yang harus diterima oleh si pria. Si pria menyesal dalam hatinya, kenapa dulu mencampakkan sahabatnya. Tapi dalam hati dia marah juga, kan cuma satu hari, padahal si wanita membalasnya berbulan-bulan. duh...

Puncaknya, beberapa hari menjelang pertempuran hidup mati. Hari jumat tepatnya setelah bermaaf-maafan pada guru di SMA, lima orang memutuskan pergi ke tempat sekolah dasar mereka, meminta doa restu bapak ibu guru yang dulu.

Lima orang itu, si pria, si wanita, seorang sahabat si pria yang merupakan pacar si wanita, seorang pria lain sahabat si pria, dan seorang wanita pacar si pria yang lain. sebetulnya, hanya para prialah yang benar-benar meminta restu, sedangkan wanita-wanitanya hanya ikut menemani saja. Setelah meminta doa restu, mereka makan di suatu rumah makan. Bayangkan, si pria yang sendiri harus berbagi dengan dua pasangan yang sedang berbagi kemesraan. Bagaimana sepinya si pria itu. Makanan yang enak pun hanya terasa di lidah, tidak menenangkan di jiwa.

Akhirnya masa sekolah pun usai, seorang pria dan dua pasangan kekasih yang berbagi meja itu berpisah mencari jalan masing-masing. dua pasangan itu kini sudah berpisah, masing-masing sudah punya pasangan lagi yang lain. Sayang, perpisahan fisik diiringi pula dengan perpisahan jiwa.

Si pria tetap memilih sendirian, dan mendoakan agar sahabatnya bisa terus berbahagia walaupun mungkin kini sudah berubah.

 Si pria tetap menjalin hubungan baik dengannya, walaupun hanya sekali-sekali. Dengan yang lainnya? Sama saja, itulah dunia baru kita.

For the man, the main character, now everything went better than expected


Read more »

Selasa, 12 Juni 2012

Say No To 'Sungkan'

Walaupun saya orang JAWA ASLI... Sempat terbersit di pikiran saya, ada apa dengan orang jawa? Mengapa mereka selalu dan selalu sungkan. Ini sungkan, itu sungkan, apapun sungkan.

Semisal ketika kita sedang bertamu di rumah orang, kemudian kita ditawari makan. 

Tuan rumah: ayo tamu, makan dulu. (senyum 2-2-7 ala pak harto)
Tamu: oh iya, tuan rumah, terima kasih, saya sudah makan (senyum ambigu) 
Tamu: (kesempatan makan nih, tapi sungkan, ntar dikira rakus) #nahanlapar

Anda kira sungkan itu hanya ada ketika menjadi tamu? Ooo tidak, menjadi tuan rumah pun banyak sungkannya. Misalnya kalau nggak nawarin makan, sang tuan rumah sungkan, nanti dikira pelit, akhirnya ditawari jugalah makan walaupun sebetulnya di meja makan belum tentu ada makanan.

----------------------------------------------------STOP------------------------------------------------------------

saya stop dulu karena dari sini pasti udah mulai kontroversi ini

*ini gimana sih penulis, ngaku Jawa kok nggak ngerti sungkan, nggak ngerti sopan santun!!*
(ujar seorang pembaca dalam hati)

*setuju! pasti nggak pernah ngerti toto kromo!*
(ujar seorang pembaca lain dalam hati)

weits, tunggu dulu, saya punya pembelaan. . . . . 

Bagi saya, sopan dan sungkan itu dua konteks yang bagaikan bumi langit. Sopan, artinya kita bisa berlaku tepat waktu dan tepat tempat, alias disiplin. Sopan bukan berarti harus lemah lembut, alon-alon, thimak-thimik, lemah gemulai, karena sopan itu bukan menari Srimpi. 

Okelah, mungkin dengan orang yang lebih tua (dalam hal umur, pangkat, ilmu, dll.) ada baiknya kita merendahkan suara, menjaga intonasi, tapi tetap tidak klemar-klemer dan tidak lelet, apalagi lelet yang dibuat-dibuat. Tapi bagaimana dengan teman sepergaulan, kondisi di jalan raya, masihkah kita perlu sikap seperti seorang penari kraton? Tentu Tidak.

Itu sopan menurut definisi saya.. sekarang lanjut ke sungkan..

Sungkan itu berarti membohongi diri sendiri, menipu keadaan agar terlihat sempurna, walaupun aslinya tidak. Contoh seperti orang yang diatas, yang nawari makanan tuh ketika ada tamu, atau tamu yang nggak mau makan ketika disuguhi.


------------------------------------------STOP----------------------------------------------------------------

Saya STOP lagi karena kontroversi pasti semakin menggila.

*Wah! ente kafir jangan-jangan, nggak mau ngikutin Rasul, padahal Rasul kalau ada tamu pasti disuguhin sesuatu untuk dimakan/diminum tamunya.*
(teriak seorang pembaca)

*Betul itu, udah jangan nerusin baca ini! Artikel sampah!!*
(teriak seorang pembaca yang lain)

hei, saya masih punya pembelaan lho. Lain dengan Rasulullah SAW, beliau menyediakan makanan untuk tamunya untuk menyenangkan tamunya, sedangkan kita? menyediakan makanan agar tidak dibilang pelit, apalagi bagi seorang pejabat, pengusaha kaya juga.

tamu yang menolak makan tadi juga, bukankah itu berbohong pada diri sendiri, menyiksa diri sendiri? sudah jelas lapar, masih sungkan. makan tu sungkan sampai kenyang. bukankah berbohong itu dilarang dalam Islam?

Oke, berbohong itu boleh dalam Islam, tapi tentunya bukan dalam hal seperti tersebut diatas. oke?

----------------------------------------------STOP--------------------------------------------------------------

sampai di sini dulu artikel saya. terima kasih.

n.b. jika anda membaca sampai sini, berarti anda sependapat dengan saya, karena jika tidak mungkin anda sudah pergi di tanda STOP pertama atau kedua. :D

with love from Malang.

"Saya orang yang punya malu dan jelas tahu sopan santun, tapi saya belajar untuk menghapus rasa sungkan dalam diri saya" 


Read more »

Powered By Blogger