Sabtu, 03 Maret 2012

Karena Indonesia Lebih Asyik Tanpa JIL!

 

 http://www.youtube.com/watch?v=lMbeTlMyNYk

Video yang ane post diatas ini, mungkin udah banyak yang nonton, banyak juga reaksi yang muncul, ada yang pro, ada yang kontra. Ane pribadi termasuk yang pro sama gerakan ini #IndonesiaTanpaJIL 

bagi kawan-kawan pembaca yang lain, boleh kok berpendapat masing-masing, monggo, post di comment ya.

jika videonya jelek, harap maklum, keterbatasan kapasitas komputer ane yang menyebabkan demikian. please enjoy. :D

Read more »

Kamis, 01 Maret 2012

Resensi: Martir Tuhan


Belajar itu membosankan, apalagi sejarah. Betul?

Ini pendapat yang lumrah di kalangan pelajar dan mahasiswa, maklumlah kita yang biasanya berpikiran futuristis, jauh ke masa depan tiba-tiba diminta menengok ke belakang untuk mempelajari sisa-sisa kejadian di masa lalu, berat bukan? Apalagi sejarah dunia.

Perang salib adalah satu sejarah dunia yang fenomenal. Perang ini berjalan lebih dari sembilan periode, yang mana setiap periodenya diwarnai kisah yang heroik, tragis, romantis dan tentunya fantastis. Perang ini lebih hebat daripada Perang Dunia 1 dan 2. Tentu saja, karena dalam perang salib ini hadir dua kekuatan terbesar yang pernah ada di dunia, yaitu kekuatan Islam melawan kekuatan Nasrani.

Novel ini membawa kita ke Eropa pada permulaan tahun 1100-an, dimana Paus Urbanus II mengeluarkan maklumat pada Konsili Clermont untuk mengangkat senjata, memerangi muslimin dan merebut kembali kota Jerusalem, kota suci tiga agama. Kontan saja para kesatria Nasrani yang terlibat konflik langsung berhenti dan menyamakan visi mereka, merebut kembali kota suci dan menyingkirkan kuku-kuku sultan dan khalifah muslimin dari kota itu. Itu adalah tugas suci bagi setiap jiwa yang mengaku seorang Nasrani. Tua, muda, kaya miskin, kesatria, budak, pendeta, semuanya turut serta dalam perang suci membela agama Tuhan.

Demikian pula kekhalifan Utsmani atau yang biasa disebut Ottoman, mereka pun berusaha mati-matian mempertahankan kepemilikan atas atnah Yerusalem. Namun sayang, belum kokohya ikatan diantara Muslimin pada masa itu menyebabkan Yerusalem lepas dari genggaman. Gempuran dari umat Nasrani yang sangat dahsyat membuat banyak korban berjatuhan.

Akhirnya harapan muncul dari Baghdad. Seorang atabeg bernama Imaduddin Zangi mencoba menyatukan kembali semangat Jihad muslimin yang sudah hancur, perlahan namun pasti daerah-daerah yang sudah dikuasai umat Nasrani dapat diambil kembali, diantaranya Edessa, Antiokh, dan kota-kota lain di sekitar Yerusalem.

Banyak nama-nama besar yang muncul dalam novel epik ini, diantaranya Godfrey, Imaduddin Zangi, Kaisar Alexius, Baldwin, dan lain sebagainya. Penulis novel ini, Muhammad B. Anggoro sangat hebat dalam menyajikan sudut pandang baik dari umat Nasrani maupun Muslimin. Pembaca dijamin akan mampu merasakan ketegangan, kehebatan, kesedihan maupun semangat juang para martir dan syuhada. Novel ini merupakan salah satu buku yang baik untuk dibaca, karena dengan membaca tanpa sadar kita juga belajar sejarah. Dua kata terakhir untuk novel ini: Sungguh Epik


  • Judul : Martir Tuhan
  • Pengarang : Muhammad B. Anggoro
  • Penerbit : DIVA Press
  • Halaman : 376
  • ISBN : 979-963-710-4

Read more »

Kenangan

Sudah beberapa jam aku duduk di sini, di kursi nomor 24, kafe di sebelah perpustakaan. Aku ingat pertama kita jumpa dahulu, aku duduk di sini sendiri pada hari aku di pecat empat tahun lalu, mencoba mengingat dendam-dendam ku pada bos.

Semua bukan salah ku! Oke, memang beberapa kasus itu ku akui salah ku, tapi apakah rekanku yang lain tidak bersalah? Memangnya mereka malaikat yang selalu suci dari dosa? Kalau ingin menyingkirkan ku kenapa dulu bos terima ketika aku mengemis pekerjaan?

Lalu kau datang. Membawa nampan berisi secangkir kopi dan roti isi selai coklat.

"Ini gratis, aku yang traktir." Katamu, "tunggulah, shiftku sebentar lagi selesai."

Perjumpaan yang indah, tak kusangka Tuhan mengirimkan bahagia lewat tangan-tanganmu. Ya, memang hanya secangkir kopi dan sepotong roti, tapi itu sudah cukup untukku, mengetahui ada yang masih peduli padaku walau kita belum saling kenal.

Kulirik jam yang melingkar di tanganku, pemberian kakekku 15 tahun yang lalu, warisan keluarga katanya. Jam ini turun temurun melingkar di tangan ayah dan kakekku dan kakekknya lagi, entah sudah berapa generasi jam ini berpindah, tapi masih indah. Jarumnya menunjukkan pukul 22.35, tiga puluh menit lagi kafe akan tutup, tapi kau belum datang juga, apa kau lupa dengan janji kita?

Bukankah hari ini hari jadi kita? Hari yang sama ketika aku dipecat, namun hari yang sama pula di mana kita mengikat janji, tiga tahun yang lalu. Kekasihku, benarkah kau sudah lupa? Atau kau sedang bersembunyi di balik pintu masuk? Menunggu aku menyerah dan keluar, lalu kau menyambut ku dengan kecupan manis.

Di seberang meja kulihat Tuan Alfred, bosmu, membersihkan meja. Kulihat jamku lagi, 10 menit lagi kafe tutup. Aku mulai menyerah, mungkin kau sudah lupa dengan hari ini, mungkin kau punya kekasih baru, mungkin kau sudah tidak mau lagi denganku.

Kuseruput sisa kopi manis di cangkirku, rasanya berbeda dengan buatanmu, juga buatanku sendiri. Ini buatan Bertha. Kulirik lagi jam tanganku, 5 menit lagi kafe tutup. Aku bertekad akan tetap menunggumu di sini, sampai Tuan Alfred mengusirku seperti yang pernah terjadi satu bulan lalu. Ia marah-marah dan melempariku dengan apa pun yang dapat diraih tangannya, piring, cangkir, botol-botol kosong. Aku terpaksa lari.

Perlahan Tuan Alfred mendekat, aku bersiap untuk menepis apapun yang dilemparnya.

"Percuma Tuan, aku akan menunggu Maria di sini sampai ia datang." suaraku ku tegas-tegaskan agar ia takut

"Sudahlah Al, lupakan saja Maria, kau punya kehidupan, pulanglah."

Tanpa kuduga dia memegang pundakku dengan lembut, seperti seorang ayah yang menasihati anaknya agar menjadi seorang lelaki dewasa yang pemberani. Tanpa bentakan, maupun lemparan benda-benda seperti yang lalu.

Aku menyerah, aku bangkit perlahan dari kursi ku, lalu berjalan mengambil jaket yang ku gantungkan di sebelah pintu. Hari ini sungguh bersejarah bagiku, hari di mana aku mendapat kembali semangatku tiga tahun lalu, tapi hari ini juga aku kehilangan semangatku. Aku lupa bahwa hari ini dua tahun yang lalu, adalah hari aku kehilanganmu di suatu jalan yang dingin.

Read more »

Selasa, 28 Februari 2012

Sebait Doa Untuk Ukhuwah

Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu, telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu, telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu.
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu.
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.

Read more »

Senin, 27 Februari 2012

Jarak Terkembang

aku tahu, ketika senyum terkembang lebar diantara kita.
tanpa rasa api memanas di muka dan seutas tali mengikat leher.
aku rindu, pada canda tawa yang kita lempar bersama.
kedalam kolam bahagia dan kita duduk di tepi.
jalan Tuhan siapa yang tahu, sungai waktu tak dapat ditunggu.
karena kita tidak menunggu, menunggu waktu yang sudah berlalu.

biarkanlah jika kini kayu pergi jadi abu.
relakanlah jika tumbang pohon-pohon yang bisu.
karena kita kini tak lagi pada kapal yang sama.
karena kita kini dijauhkan oleh cita dan asa.
karena jarak sudah terkembang diantara kita.

Read more »

Powered By Blogger