Sabtu, 12 Februari 2011

Mungkin Ini Untukmu

Sepotong roti nyaris basi dan segelas air putih mungkin lebih baik, bagi mereka pekerja kasar yang jujur, dalam setiap langkah yang diambil, dalam setiap detik hidup waktu mereka. Daripada sajian yang menggiurkan, yang dimasak oleh koki-koki terbaik, yang nikmatnya membumbung tinggi ke awan, yang lezatnya sampai ke ujung jari, namun disajikan hanya untuk mereka, sekali lagi hanya untuk mereka, yang bagaikan burung dalam sangkar emas, dengan kebebasan semu mereka.

Nikmatilah, nikmatilah, rayakan dengan penuh sukacita, kebebasanmu yang masih di tangan, langkah-langkah yang masih bisa dengan riang gembira kemanapun hatimu suka.
Berdo'alah untuk mereka, yang dikurung dalam sangkar emas, yang mengecap manisnya kebebasan semu dan meninggalkan indahnya kebebasan yang sejati.

@my room, Dau, 12 Februari 18.52; (biarlah kau pergi kemanapun hatimu suka)

Read more »

Jumat, 11 Februari 2011

Another New World: Back In Action

ehmm.. tes..tes..

Assalamualaikum..

Alhamdulilah, setelah sekian lama off dari buletin dan blog dakwah "BURST: Not Just an Advice", ane selaku (mantan) Redaktur on D' Board bisa kembali berdakwah kepada kawan-kawan ~atas ijin Allah tentunya~

InsyaAllah melalui blog pribadi ane yang enggak kalah keren dengan blog maupun buletin BURST ini ane akan tetap menyuarakan merdunya dakwah islamiyah dan tentunya sambil saling mengingatkan diantara saudara-saudara muslimin.

Jadi, untuk pembaca yang budiman maupun budiwati, silakan sesekali mampir ke blog ane ini ...yaaaa... untuk sekedar baca-baca informasi. Insya Allah ada manfaatnya untuk pembaca maupun ane selaku penulis. ~amin~

Wassalam ~ Girin

Read more »

Rabu, 13 Oktober 2010

Renungan

Hidup ini tidaklah kekal, cepat atau lambat hidup ini akan berakhir.
Bagaikan matahari yang terbit di pagi hari, pastilah ia nanti akan terbenam juga di sore hari.
Begitu juga hidup kita, sepanjang apapun usia kita, sekuat apapun tubuh kita, suatu saat tada bisa kita kabur menghindari kematian.
Walaupun kita berada di balik benteng yang kokoh, yang dijaga ribuan bahkan jutaan pasukan, bersenjata lengkap, berani mati untuk kita.
Tiada satupun yang akan mampu menggantikan kita dari kematian kita.

Read more »

Kisah Anak Kecil dan Pohon Apel


Alkisah, hiduplah sebatang pohon apel yang sangat besar. Pohon itu sangat menyayangi seorang anak yang sering bermain dengannya. Begitu juga anak itu, ia sangat sayang dengan pohon apel besar itu. Setiap hari ia bermain dibawah pohon itu, memanjatnya, memakan apel-apelnya, dan apabila lelah ia tidur di bawah bayang-bayang pohon itu.

Waktu berlalu, anak itu kini telah tumbuh dewasa. Suatu hari datanglah anak itu kepada pohon apel.

Pohon apel berkata "Bermainlah denganku."

si anak menjawab "Aku sudah besar, aku tidak mau bermain di bawah pohon lagi. aku ingin mainan."

"Aku tidak punya uang, tapi aku punya apel-apel, ambillah, kemudian juallah, uangnya bisa kau belikan mainan."

Waktu berlalu sejak hari itu, suatu hari datanglah anak kecil itu yang kini sudah menjadi seorang ayah.

"Bermainlah denganku lagi." Kata si pohon apel

"Aku tidak punya waktu, aku harus bekerja, anak istriku tidak punya rumah." jawab si Anak

Pohon apel berkata, "Aku tidak punya rumah dan uang, tapi, aku punya dahan. Potonglah sebagian, kemudian buatlah rumah untuk anak istrimu."

Lama si anak tidak berkunjung, kemudian suatu hari datanglah ia kepada pohon apel.

"Bermainlah denganku." kata si pohon apel

"Aku terlalu tua untuk bermain, aku ingin kapal yang bisa kugunakan untuk bersantai bersama keluargaku." Kata si anak

"Tebanglah aku, batangku bisa kau gunakan membuat sebuah kalapal yang enak untuk keluargamu." kata si pohon apel.

Kemudian ditebangnyalah pohon apel besar itu dan dibuatnya kapal.

Kini tinggal akar dan sebagian kecil batangnya yang tersisa.

Suatu hari si anak datang lagi kepada pohon itu. Ia sudah tua kini, seorang kakek yang renta.

Pohon apel berkata, "Aku sudah tidak punya apel-apel lagi untukmu. Aku juga tidak bisa kau panjat lagi"

Si anak menjawab, "Tidak mengapa, aku juga sudah tidak kuat untuk memanjat pohon. Aku cuma butuh tempat untuk beristirahat"

"Kalau begitu duduklah di batangku, batang pohon adalah tempat yang enak untuk beristirahat." Kata Pohon apel.

Duduklah si anak itu (yang kini sudah menjadi kakek) diatas potongan batang dan akar si pohon apel dan tersenyumlah si pohon apel.

Bisa dibilang pohon itu adalah perumpaan orang tua, keluarga, sahabat, dan kawan kita, yang akan selalu ada di samping kita, mendukung dan membantu kita bagaimanapun caranya walaupun itu sebetulnya sulit dilakukannya. Maka hargailah mereka, selama mereka masih ada.

(Konfusius)

Disadur dari berbagai sumber dengan perubahan seperlunya.

Read more »

Kamis, 23 Juli 2009

Al - Qur'an (Part III)


Tahukah antum? Nggak cuma Deddy Corbuzier aja yang bisa bikin prediksi masa depan, ada saingannya loh, bahkan lebih hebat. Dialah Al - Qur'an. Ya, berita di Al Qur'an tentang peristiwa masa depan ditemukan dalam ayat pertama Surat Ar Ruum, yang merujuk pada Kekaisaran Bizantium, wilayah timur Kekaisaran Romawi. Dalam ayat-ayat ini, disebutkan bahwa Kekaisaran Bizantium telah mengalami kekalahan besar, tetapi akan segera memperoleh kemenangan.

"Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang)." (Al Qur'an, 30:1-4)

Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

Pendek kata, setiap orang menyangka Kekaisaran Bizantium akan runtuh. Tetapi tepat di saat seperti itu, ayat pertama Surat Ar Ruum diturunkan dan mengumumkan bahwa Bizantium akan mendapatkan kemenangan dalam beberapa+tahun lagi. Kemenangan ini tampak sedemikian mustahil sehingga kaum musyrikin Arab menjadikan ayat ini sebagai bahan cemoohan. Mereka berkeyakinan bahwa kemenangan yang diberitakan Al Qur'an takkan pernah menjadi kenyataan.

Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Bizantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Bizantium. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

Akhirnya, "kemenangan bangsa Romawi" yang diumumkan oleh Allah dalam Al Qur'an, secara ajaib menjadi kenyataan.

Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun di masa itu.

Dalam ayat ketiga Surat Ar Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah paling rendah di bumi ini. Ungkapan "Adnal Ardli" dalam bahasa Arab, diartikan sebagai "tempat yang dekat" dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata "Adna" dalam bahasa Arab diambil dari kata "Dani", yang berarti "rendah" dan "Ardl" yang berarti "bumi". Karena itu, ungkapan "Adnal Ardli" berarti "tempat paling rendah di bumi".

Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia, ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di titik paling rendah di bumi. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. "Laut Mati", terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi.

Ini berarti bahwa Bizantium dikalahkan di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini.

Hal paling menarik dalam fakta ini adalah bahwa ketinggian Laut Mati hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran modern. Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasannya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam Al Qur'an, daerah ini dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi kira - kira lebih dari 1000 tahun sebelum ilmu pengetahuan modern "ditemukan". Demikianlah, ini memberikan bukti lagi bahwa Al Qur'an adalah wahyu Ilahi.


Read more »

Powered By Blogger