Rabu, 01 April 2015

Menuju Tak Terbatas dan Melampauinya!

http://9gag.com/gag/ao0Vm1g

Saya, ketika sedang browsing random di 9gag, kebetulan menemukan postingan itu. Judulnya "We're just a drop in the Ocean." Isinya bagus, menggambarkan betapa bumi yang kita rasa udah segede gaban ini, ternyata seperti tetesan air kalau dibandingkan dengan luasnya angkasa yang tak terbatas. Manusia yang merasa udah gede, udah berkuasa, yah ternyata nggak ada sebiji jagung dibandingin objek lain di alam semesta. Yah, tapi saya nggak akan bahas itu, saya nggak kan bahas betapa sombongnya manusia. Udah obvious, jelas banget lah itu. Yang saya mau bahas sekarang tentang luasnya galaksi diluar sana.

Saya ingat, beberapa tahun kebelakang ketika masih pake modem.. (duh) sekitar kelas 3 SMA, saya suka browsing portal berita, Kompas tepatnya, yang waktu itu masih ada rubrik Sains dengan subrubrik Fisika dan Astronomi. Entahlah saya ini orang IPS tulen, sampai ke tulang, tapi saya cinta dengan pengetahuan mengenai luar angkasa.

Banyak informasi mengenai planet-planet layak huni di luar sana yang mirip dengan Bumi, dalam arti iklim, kemudian susunan mineralnya, ketersediaan air, bla bla bla... dan lain sebagainya yang intinya memiliki kondisi yang mirip dengan Bumi yang memungkinkan manusia untuk bisa tinggal di sana dengan penyesuaian minimal (atau bahkan mungkin nol).

Sering saya berpikir, dengan jutaan atau bahkan milyaran planet diluar sana, masa nggak ada satupun yang dihuni selain bumi. Lalu, sore ini rasanya pikiran saya di-update, nah lantas bagaimana dengan planet yang 'tidak layak huni' oleh manusia. padahal di bumi saja ada tempat-tempat yang tidak layak dihuni manusia tapi masih ada organisme yang hidup didalamnya, contohnya kedalaman laut, manusia mana bisa hidup di sana ya kan? Tapi toh masih ada ikan bejibun di sana. banyak juga organisme yang hidup bahkan di kedalaman sinar matahari tidak bisa menembus. Kalo dianalogikan, seharusnya, sama juga dong planet yang 'tidak layak huni' oleh manusia mungkin layak dihuni oleh makhluk non-manusia. Masa sih, sebanyak itu planet nggak ada makhluk non-manusianya.

Apakah kita di alam semesta yang luar biasa luas ini cuma hidup sendiri? Bisa ya bisa nggak.

Mungkin ada ciptaan Tuhan di luar sana yang belum terjangkau. Dan nanti ketika sudah terjangkau maka akan semakin takjublah kita atas penciptaan alam semesta yang luar biasa dan seolah tanpa batas ini. Mungkin 10 atau 20 tahun mendatang kita bisa kontak dengan mereka, entahlah.

Seperti kata Buzzlightyear dari Starfleet Command, Menuju Tak Terbatas dan Melampauinya!

Read more »

Kamis, 26 Maret 2015

Mari Meraba Gajah

Saya membaca sebuah artikel, tentang bagaimana tiga orang buta disuruh mendeskripsikan gajah. Si orang pertama memegang kuping gajah, lantas dia deskripsikan gajah itu sebagai sesuatu yang pipih dan lebar. Kemudian, si orang kedua meraba gajah di bagian ekor dan berkata, "Gajah itu bulat panjang seperti pipa, tapi lentur dan empuk." Kemudian si buta ketiga meraba gading gajah, dan menyimpulkan bahwasanya gajah itu keras, kaku, dan panjangnya selengan.


Terbayang bagaimana kericuhan yang terjadi antara ketiga manusia ini, pendapat yang satu menegasikan pendapat yang lain. Deskripsi satu bertentangan dengan deskripsi kawannya. Mungkin bisa jadi sampai terjadi baku hantam jika satu dan yang lain keukeuh -semoga tulisannya benar- dengan apa yang ia deskripsikan, apa yang ia yakini benar. Lantas, apakah salah satu dari ketiga buta ini ada yang paling benar? Tentu tidak karena ketiganya sama-sama benar, hanya saja pandangannya terhadap fakta yang ada kurang menyeluruh.


Lantas, bagaimana ketiga orang buta tadi mendapat pandangan yang menyeluruh? Ya tentu saja harus meminta pada pihak di luar mereka yang tidak buta, yang bisa memberikan kebenaran sejati tentang blejetnya si gajah ini. Bahwasanya memang benar gajah itu pipih dan lebar di telinganya, panjang seperti pipa ekornya, serta gadingnya yang kaku dan keras. Ditambah lagi fakta-fakta yang tidak teraba oleh trio buta, seperti warna gajah yang abu-abu gelap, belalai yang panjang dan bunyinya kayak terompet, postur tubuh yang gembrot, nggedabluk, dan tekel, serta fakta-fakta yang lebih abstrak lagi, misalnya nama gajah itu Bona dan memiliki teman yang namanya Rong-rong, mirip di majalah anak-anak lawas. Kalau sudah begitu, maka perdebatan antara trio buta ini bisa terselesaikan dengan kekeluargaan, tak perlu gontok-gontokan apalagi berbacokan. Karena ada si nomer empat yang enggak buta, yang memberikan kebenaran yang sebenar-benarnya.

Nah, sekarang kita tambah masalah supaya lebih seru. Tidak ada yang memandu mereka. Si buta pertama menjelaskan gajah itu sebagai sesuatu yang kecil, berbulu, dan bercakar. Ternyata yang dipegangnya adalah kucing. Deskripsi si buta kedua agak berbeda, bahwasanya gajah itu punya paruh, bulunya kasar, berkaki dua, dan bunyinya 'kukuruyuuk~' karena yang dipegang adalah ayam. Si buta ketiga malah lebih unik lagi, ia terangkan jika gajah itu kotak, hangat, dan bersuara seperti suaranya manusia. Lha wong yang dia pegang itu ternyata televisi. *tepokjidat*

Ini yang bikin repot, kalau masing-masing ngaku yang paling bener. Padahal ketiganya salah. Kembali dibutuhkan observer, orang keempat yang bisa lihat, bisa tahu tentang kebenaran yang sebenar-benarnya mengenai tugas yang diberikan kepada si trio buta itu.

Pun demikian dengan para buta-wan (dan wati) yang kini memenuhi bumi. Enggak  cuma tiga, melainkan milyaran. Masing-masing diberi tugas oleh observer alam ini, yang Maha Tahu, Maha Paham, yang Superlative, the One Above All. Nah, tergantung dari yang diberi tugas apakah sudah melaksanakan tugas dengan benar. Jangan sampai kita diberi tugas mendeskripsikan gajah, ternyata yang kita raba dan kita terangkan adalah kucing. Joko Sembung kan jadinya?

Kemudian, bagaimana kita bisa benar dalam menjalani tugas? Ya tentu dengan mengontak yang Superlative itu, memohon diberi petunjuk agar benar dalam menjalankan tugas yang diemban. Penting juga untuk tidak menyalahkan sesama buta yang sedang bertugas, apalagi sampai gontok-gontokan, gebukan, bacokan, dan berbuat ricuh. Toh, kita sama-sama buta. Tidak ada yang tahu pasti apakah kita memamng sudah benar kita meraba gajah, atau kita  masih meraba yang lain-lain. Ya to?

Dalam hati kita memang dituntut untuk meyakini bahwa apa yang kita raba selama ini memang yang paling benar. Yakin 100% atau tidak sama sekali. Tapi, sejujurnya selaku orang yang juga masih buta, ada sedikit pertanyaan dalam diri saya, yang mungkin juga dirasakan orang lain, apakah sudah yang paling benar yang kita raba selama ini? Semoga kita memang sedang meraba gajah dan kelak mampu mempertanggungjawabkan deskripsi gajah itu. Semoga~

n.b.: gambar gajah diambil dari google ^^ tepatnya gajah afrika (Loxodonta africana). konon setelah mammoth punah, dia yang terbesar di kelasnya. 

Read more »

Senin, 08 Desember 2014

Jari Manis dan Hidupmu Yang Nggak Ada Gunanya

Sore ini saya kepikiran, betapa sejauh ini hidup saya nggak begitu berharga. Prestasi ya gitu-gitu aja, medioker banget. Kerjaan juga belum punya, uang saku masih minta. Bikin-bikin blog, juga sesekali aja diurusin, pasang adsense juga enggak ada yang klik. Ibadah, alhamdulillah lancar, tapi belum cukup. Hobi ngegambar, nggak begitu jago, e-sport juga nggak dewa-dewa amat (halo, DoTA, Ragnarok, dan game-game online yang sudah saya tinggalkan. Kepala 21 dan nggak ada pencapaian yang berarti, ash. . . .

Mungkin pembaca juga ada yang gitu, dengan masalah yang dihadapi masing-masing. Udahlah jangan pura-pura enggak. Kebanyakan pasti iya. mwahahahaa. . .

*siiiing*

Tapi bukan itu yang saya soroti. Saya cuma ngajak temen-temen pembaca supaya jangan bersedih dengan keadaan, chin up! Boleh jadi hidupmu itu seperti jari manis, yang baru keliatan "wah" setelah cukup lama bersabar dengan keberadaannya yang enggak dianggap.

Jari manis, atau bahasa inggrisnya Ring Finger, adalah jari keempat jika dihitung dari Ibu jari dan jari ke dua dari jari jentik atau jari kelingking. Literally, ring finger adalah tempat anda akan meletakkan wedding ring. Makanya saya bingung ketika ditransliterasi menjadi jari manis, padahal kalau dijilat enggak manis-manis juga.

Jujur yah, jari ini enggak begitu keliatan manfaatnya. Bener dah, yok kita bedah satu-satu.

1. Yang pertama Jempol, atau Ibu jari.

Jempol jelas keliatan manfaatnya. Nggak percaya? coba ente ngiket tali sepatu nggak usah pake jempol. Pegang barang nggak pake jempol, dan lain sebagainya. Sulit kan?

Jempol ada dalam setiap aspek kehidupan kita baik yang mayor dan minor.

Jempol bisa menunjukkan pujian ataupun cacian.

Jempol bahkan bisa menyelamatkan nyawa seseorang dalam pertandingan gladiator, (atau seenggaknya begitu yang ditunjukin di film Gladiatornya Russel Crowe)

Liat ni si om, begitu jempol madep atas, ente selamet gan. Tapi kalo jempol madep bawah. . ., Mampus..

Bisakah jari manis melakukan ini? Enggak.
skor
Jari Lain 1; Jari Manis 0



2. Lanjut Jari Telunjuk.

Jari telunjuk, yah, gunanya untuk nunjuk.. mencet nomer telepon, ngetik, segala macem. Ngupil juga iya.

Jari tunjuk menunjukkan semangat yang membara, keinginan untuk berjuang dan lepas dari segala penderitaan. Nggak percaya? Liat tuh fotonya Bung Tomo, yang diacungkan jari apa? Telunjuk apa Manis?

Coba kalo waktu itu Bung Tomo yang diacungin jari Manis, seluruh dunia bakal bingung.

skor
Jari Lain 2; Jari Manis 0


3. Jari Tengah

Jujur, waktu saya nyari di Google dengan keyword jari tengah, rata-rata yang keluar pose kaya gini. Entahlah, jari tengah diasosiasikan dengan postur mengumpat ala orang barat.
"F*ck You!", yes, you.. (kalo nggak percaya boleh cari sendiri di Google, keyword: jari tengah)

Jadi saya enggak mau banyak komen untuk jari tengah. At the very least, dia masih berguna untuk mengungkapkan kekesalan anda. Coba kalau "F*ck You!" lambangnya diganti jari manis, jatohnya malah lucu kan..



Padahal nggak cuma buat mengumpat, kalau jari tengah dijadikan senjata utama dengan jari telunjuk dan jari manis sebagai 'base'-nya, jari ini bisa mencapai kedalaman yang diinginkan. fufufu. kalau enggak paham maksudnya nggak usah nanya, simpen aja buat diri sendiri.

Carry on with the scoring,
Jari Lain 3; Jari Manis masih 0


4. Kelingking
As the picture said, jari sekecil ini dapat memegang janji sebesar apapun. True! Seringkali orang janjian dengan saling mengaitkan jari manis. Apalagi buat anakmuda yang lagi kasmaran, pasti pernah janjian kaya gini sama co/ce-nya
A: Aku gak bakal ninggalin kamu, aku bakal setia.
B: Janji?
A: Janji.
lalu mereka berdua mengaitkan jari kelingking.
Kedengaran kekanak-kanakan? Iya memang.

Tapi nggak cuma buat mereka aja kok, sahabat juga boleh janjian model gini, sebagaimana saya dulu pernah janji untuk kurus dan sahabat saya berjanji untuk berkelakuan baik. Hasilnya: Saya tetep gendut tapi dia sudah berkelakuan baik. Oke saya ingkar janji. Maaf ya kawan :)

Kalaupun kamu masih enggan untuk mengakui manfaat janji jari kelingking, paling enggak jari kelingking masih bisa buat korek-korek kuping atau ngupil. Nikmatnya luwar biyasa.

Skor
Jari Lain 4; Jari Manis 0

Nah, sekarang kita masuk ke main course kita jari manis. Jari manis begitu lemah, rapuh, nggak kuat ngapa-ngapain. Nggak percaya?
Coba jarimu dibuat kayak sebelah ini, terus satu-satu dipisahin. Jempol, telunjuk, kelingking. Cuma jari manis yang nggak kuat misah kan? Lemah banget coy. Atau coba deh telapak tangan ditangkupkan biasa, jari tengah nggah usah ditekuk. Jari tengah tetep bisa dipisahin, sementara jari manis masih enggak kuat. .

Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, jari manis menjadi semakin berguna. Walaupun masih enggak bisa dipisahin, tapi jari manis mendapat fungsi yang lebih mulia. Jadi tempat
cincin kawin bro. Nah lo, kurang berharga gimana coba? Mana ada coba jari lain yang dapet kehormatan jadi tempat cincin kawin kalau bukan jari manis. Cuma Sauron yang pake cincin di telunjuk.

Walaupun agak cocoklogi, yok kita refleksikan ke diri kita.

Boleh jadi kita merasa useless, sepet, nggak guna dalam hidup ini, sampah masyarakat. Tapi inget, rahasia Tuhan nggak ada yang tahu. Siapa yang tahu kita jadi apa dalam 10-15 tahun mendatang. Mungkin tetep useless, tapi bisa juga berhasil kan. Yang penting usahanya.  Usahamu untuk jadi lebih baik dan bermanfaat buat sesamamu.

Usahamu akan mentransformasikan dirimu, dari jari manis yang enggak bisa apa-apa, menjadi jari manis tempat cincin suatu saat nanti. 
Usahamu akan merubah dirimu, dari seorang yang tak bernilai, menjadi sesuatu yang tak ternilai Percaya!

Inget, cuma Sauron yang pake cincin di telunjuk...  cuma Sauron...

nb: gambar dari google, dengan sumber masing-masing

Read more »

Rabu, 10 September 2014

Seperti Lupa Kalau Punya Tuhan

Faidza 'azamta, fatawakkal 'alallah.
Maka ketika kamu sudah ber'azzam (kurang lebih artinya membulatkan tekad), maka berserahdirilah pada Allah.

Bagus ya, artinya? Surat Ali Imran ayat 159.

Yah, saya belakangan ini galau, berat di kepala. Banyak hal yang harus dipikirkan sebagai mahasiswa tingkat akhir. Cita-cita yang disusun satu per satu ingin direalisasikan. Mulai yang paling dekat, lulus. Pasang target kuliah S1 cukup 7 semester, Januari sudah lulus. Pasang target lagi lanjut kuliah S2, entah di dalam atau di luar negeri. Target lain lagi, turun berat badan, dapet kerjaan jadi pengajar (baca: dosen), dapet pasangan, fufufufu. :3

Nggak mudah memang. Target-target yang saya pasang kok rasanya muluk, tinggi, dan sejujurnya sangat membebani pikiran. Saya takut, kalau-kalau target yang dipasang nggak tercapai. *sakitnya tuh disini*
Pingin, tapi kok sulit,
pingin tapi kok ada halangan ini dan itu.

Beberapa hari yang lalu saya baca tulisan teman, bagus isinya. Dan di akhir tulisannya dia mengutip ayat yang saya tulis diatas itu. Alhamdulillah, saya sedikit tersadar dari keadaan yang seolah lupa kalau punya Tuhan. Toh seberapapun kuatnya saya berusaha kalau tidak diiringi tawakkal yah, mana bisa.

Tugas saya bukan mengkhawatirkan masa depan, tapi mengerjakan sebaik mungkin apa yang didepan mata sekarang. Selanjutnya, terserah yang diatas. Karena pasti apa yang menjadi ketetapanNya, baik buat saya.

Buat agama saya, studi, karir, dan jodoh. :)

Read more »

Minggu, 07 September 2014

Ketika Matahari Tenggelam

Ketika matahari tenggelam, sekelompok orang bersedih. Mengira bahwa cahaya yang menerangi hidup mereka telah hilang selamanya. Primitif. Yah, mereka memang primitif, karena tidak mengetahui bahwa matahari sesungguhnya tidak tenggelam. Hanya berpindah ke sisi lain bumi, menerangi belahan bumi yang lainnya. Sekelompok orang ini lalu berteriak-teriak histeris. Ada yang marah, ada yang menangis, ada juga yang mengutuk dan melempar-lempar tombaknya ke langit. Mereka kira setan yang mencuri matahari mereka. Sampai kegelapan akhirnya benar-benar menyelimuti mereka.

Mereka akhirnya duduk, kelelahan dengan usaha-usaha mereka yang tidak mampu mengembalikan matahari untuk bertahta di langit, menerangi mereka lagi. Perlahan bintang-bintang mulai muncul dari kegelapan. Lalu bersamanya muncul bulan yang tak kalah indahnya. Orang-orang itu mulai tersenyum. Ini mungkin tak begitu terang, juga tidak menghangatkan seperti matahari. Tapi kita tidak silau melihatnya, cahayanya yang indah dan lembut menyenangkan untuk dipandang mata.

Akupun, pernah silau. Terbutakan oleh cahaya terang yang terpancar. Cahaya yang begitu diharapkan untuk menuntun di kegelapan. Cahaya yang diharapkan menemani sepanjang hari. Hingga lupa rasanya, lupa betapa nikmatnya meraba-raba di kegelapan.

Ketika cahaya yang diharapkan redup dan menghilang, jiwa yang malang ini menangis, marah. Mencoba menawar-nawar dengan Tuhan. Lihat, bagaimana mungkin hambaMu bisa berjalan di kegelapan.

Tapi tanganNya tak pernah salah dalam menuliskan.

Lihatlah di sekelilingmu, ratusan banyak anak panah yang meleset. Juga ribuan peluru yang tak mengenai walaupun ditembakkan tepat ke arahmu. Karena Dia tak pernah menuliskan agar kau terluka olehnya. Pun demikian, dengan cahaya yang menyilaukan. Indah dipandang tapi membutakan. Mungkin Dia menuliskan agar cahaya itu tak memandumu dalam gelap. Hanya sekedar lewat, hanya sekedar mampir.

Percayalah, pada tangan yang menuliskan dunia. Bahwa bulan dan bintang akan terbit dan menemani, setelah mataharimu tenggelam.

Aku percaya.

Read more »

Powered By Blogger