Senin, 21 Januari 2013

Ketika Malam Tiba

Ketika malam tiba,
semua cahaya terserap,
jadi gelap

Ketika malam tiba,
dipan jadi hangat
dari tubuh yang terlelap
Lalu muncul, suara, visi, dan cita
dari sebelah alam nyata
Terpendam dari sanubari terdalam
menunggu masa, lalu keluar menjadi
alam nyata, walau hanya diingat sebagai mimpi
Mari, sudah terlalu lama
kau tak hadir dalam sepotong mimpi
di kepala besarku ini

Read more »

Flash Fiction

Resto
"Silahkan mau pesan apa?"
"Boleh saya minta menunya?"
"Silahkan.."
"ini.., ini, sama ini mbak."
"Kalau saya ini mbak, sama ini."
"Ini sekalian ya mbak"
"Ya, mohon ditunggu sebentar."
"Ya, terima kasih mbak."
"Kau yang bayar kan?"
"Lho, kukira kamu."

Hantu
"Astaga, kentut siapa ini?"
"Kau ya?"
"Bangsat, asal tuduh saja! Kau sendiri mungkin?"
"Enak saja, dia kali!"
"Bukan, bukan aku. Kuntilanak kali yang kentut."
"Iya, maaf aku barusan kentut."




Read more »

Minggu, 20 Januari 2013

Pesan Singkat

Kukirim sebuah pesan singkat:

apa itu cinta? di mana? di sini, di sana, di seribu tempat.

di dalam diriku, kamu.

lalu kau meragukan.

apa yang kau katakan?

mengapa kau ragu? jangan!

lalu terucap dari lisan ini. Ya, kamu yang kucinta.

maaf, katamu, maaf, aku tidak bisa.

tapi, terima kasih atas semua warna-warna yang hadir.

yang mewarnai sebagian jalan takdir.

Bolehkah aku tetap cinta? Bolehkah?

Lalu dua titik air lahir di sudut mata, jatuh ke tanah.

Kukubur rapat-rapat. Lalu senyum dengan dagu terangkat.

Read more »

Senin, 07 Januari 2013

Kepada Sekuntum Bunga

Sekuntum bunga di taman dipetik.
Kutanyakan padanya, tahukah kau bunga kecil?
Tahukah kau bumi ini berputar pada porosnya?
Tahukah kau bumi mengitari matahari sebagai pusatnya?
Ya aku tahu, kau benar manusia.
Ya kau memang benar.
Kutanyakan lagi padanya, wahai bunga kecil
Tahukah kau bahwa kau, begitu indah?
Begitu menarik hati. Aku kagum padamu.
Ya, aku tahu, kau benar manusia.
Ya kau memang benar.

Tapi manusia mengapa kau tidak mau mengakui?
Bahwa bukan hanya dunia yang mengitari pusatnya.
Bahwa dunia bukan padang gurun sepi.
Manusia, mengapa kau tak mau mengakui?
Bahwa kau mengitarinya, dia, ya, dia, sebagai salah satu pusat kehidupanmu.
Bahwa kau mengaguminya, menyukainya, ya, dia.
Bahwa kau menempatkannya, dalam loker tersendiri di lemari hatimu, lemari kehidupanmu.

Manusia, tidakkah kau mengakuinya? Bahwa bukan hanya bunga
Bukan hanya bunga yang kau kagumi
Tapi dia juga, ya, dia.
Mengapa tak kau akui? Mengapa kau tidak berani?
 
Ya, aku tidak berani, tak punya nyali, maka hanya kusampaikan ini padamu, wahai bunga kecil.

Aku sungguh mengaguminya dan menyenangi waktu jika kami berdua
Aku sungguh mengaguminya sebagai salah satu matahari
Aku titip pesan ini padanya, sampaikanlah suatu hari nanti, ketika ada kesempatan kau dipetiknya.

p.s.: hei, kau, ya kau, laki-laki itu sungguh menyayangimu.

Read more »

Kamis, 03 Januari 2013

Twitter (Tersmasuk) Sumber Bencana

Oke, mencoba kontak kembali dengan kawan lama dengan sosmed yang satu itu.


daan......


lumayan sukses langsung berbalas sekitar 5-6 jam kemudian. mengingat saya juga tidak familier dengan yang satu ini (Baca: gaptek)


termasuk membuka memori-memori lama. seseorang yang (berusaha) saya singkirkan dari pikiran, karena sementara ini sudah ada yang mengisi.

damn you twitter. . . well, damn me. kenapa juga buka-buka yang nggak-nggak. udah bagus lewat sms. -__-


p.s. to xaxaxoxo:

if you see this... can't wait to introduce "her" to you. yes. i mean "her". yes, "her".

Read more »

Powered By Blogger