Rabu, 07 Maret 2012

Pesan Abah: Sebuah Universitas Kehidupan

Sedikit cerita dariku, ini tentang seorang dosen yang luar biasa. Namanya Bapak Djamhuri Hasjim, tapi seringkali orang panggil beliau dengan sebutan 'kyai' 'mbah', atau 'abah'. Awal pertemuan dengan beliau ketika semester satu lalu. Beliau bisa dibilang cukup eksentrik, di usianya yang sudah menginjak 70an (mungkin, karena aku belum pernah tanya langsung) beliau masih segar bugar dan kuat mengajar.
Sehari-hari beliau ke kampus membawa tongkatnya. Tongkat aluminium dengan gagang plastik warna perak. Beliau bilang beberapa tahun yang lalu pernah jatuh dari sepeda motor, sehingga cedera pada kakinya dan belum sembuh sampai sekarang.

Cukup perkenalan mengenai beliau, apa yang penting sebetulnya pengajaran beliau. Pada semester 1 lalu beliau pegang mata kuliah PKn, alhamdulillah kini aku dipertemukan lagi dengan beliau di mata kuliah Ekonomi Koperasi.

Bagi mereka yang beru kenal, pengajaran beliau pasti dianggap nggak nyambung lah, kuno, kolot, dan sederet cap jelek lainnya. Memang benar, pengajaran beliau terkesan nggak nyambung. Istilah-istilah unik seperti AIDSTROMB, Camat Simatupang, dan sederet istilah lainnya. Tidak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah yang beliau bawa.

Alhamdulillah, Allah memberiku kesempatan menjadi 'sopir pribadi' beliau, datang aku jemput, pulang aku antar. Justru ketika itulah ilmu-ilmu itu masuk semua, dari mana hidup ini, untuk apa hidup ini, bagaimana mengelola hidup, kemana setelah hidup. Ilmu-ilmu yang tidak akan aku dapatkan di kelas manapun, bahkan di universitas manapun di dunia ini. Suatu pelajaran kehidupan dari seorang dosen, bukan, beliau bukan dosen, beliau lebih dari itu, seorang ustadz, bahkan seorang kyai.

Boleh dibilang Allah membuka hatiku lewat tangan beliau. Seperti pesan beliau pada hari ini, Rabu 7 Maret 2012 di kelas "Seseorang yang hatinya tertutup pasti nggak mau denger kata saya, tapi Insya Allah yang hatinya terbuka bakal tetep mau ndengerin saya."

Sebuah pesan yang unik dan aneh, tapi benar memang, bagi mereka yang hatinya tertutup akan sulit menerima kebenaran, bahkan menolaknya. Maka hendaknya kita memohon agar kita senantiasa dibukakan hatinya oleh Allah.

"Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, balikkanlah hatiku agar senantiasa taat padaMu." ~Aamiin

Read more »

Selasa, 06 Maret 2012

Kita Tidak Sujud Di Tempat Yang Sama

Betapa kita sering sua, sering jumpa. Dalam setiap mimpi yang pernah kualami, pun dalam setiap canda yang kau lontarkan yang kau ceritakan. Bilamana mentari tenggelam pada hari kita jumpa, aku selalu menanti saat ia terbit lagi di hari baru pertemuan kita.

Tuhan itu satu, Tuhan itu sama, Tuhan itu Maha Satu, Maha Esa. Mana mungkin kita sembah Tuhan yang berbeda. Tuhanku, Tuhanmu, Tuhannya, Tuhan mereka, Tuhan kita, sama. Hanya lambang-lambang kita yang berbeda. Hanya ritual kita yang berbeda dan akal-akal yang diberikan Tuhan pada kita agar kita bisa memilih, jalan mana yang mau kita tempuh.

Dalam catatan kitab-kitab Tuhan yang diturunkan untuk kita berisi kisah-kisah yang bertautan. Satu sama lain, dari masa ke masa, dari nabi ke nabi. Ada benang merah yang menyatukan itu. Tinggal kita yang berpegang pada benang yang benar atau tidak. Tinggal kita yang beriman pada yang benar atau tidak.

Aku tunduk pada Tuhan kau pun tunduk pada Tuhan. Aku patuh pada Tuhan kau pun patuh pada Tuhan. Karena kepatuhan dan ketundukan ku Tuhan menyayangi ku. Dia pun menyayangimu karena kepatuhan dan ketundukanmu pada-Nya. Sayang beribu sayang, ketika kita tidak sujud dengan cara yang sama. Suatu hari nanti mungkin kau mau mempertimbangkan untuk ikut sujud kepada Tuhan dengan caraku, dengan cara kami.

Read more »

Sabtu, 03 Maret 2012

Resensi: Anansi Boys

Satu lagi buku novel yang ane resensi. Kali ini yang jadi pilihan adalah Anansi Boys karya Neil Gaiman. Novel ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada tahun 2007. Novel ini terbit di negeri asalnya, negerinya Om Sam alias Amerika pada tahun 2005. Buku ini merupakan spin-off alias cerita sampingan dari novel sebelumnya yang mendahului yaitu American Gods.

Diceritakan dalam buku ini adalah kehidupan seorang akuntan yang bernama Charles Nancy, namun ia lebih sering dipanggil Fat Charly. Dia bukan manusia biasa, karena sebetulnya dia adalah anak dari Anansi, dewa laba-laba dari mitologi Afrika. Fat Charly memiliki kehidupan yang monoton dan cenderung susah. Pekerjaannya di kantor yang merepotkan, bosnya, Tuan Grahame Coats yang menyebalkan, juga hubungannya dengan tunangannya Rossy yang boleh dibilang kurang berwarna.

Sampai pada suatu hari, seorang teman ayahnya memberitahukan kepadanya bahwa ia punya saudara kembar. Spider namanya. Tapi Fat Charlie tidak ingat bahwa dia punya saudara. Akhirnya pada suatu hari saudaranya itu benar-benar datang di apartemen Fat Charlie dan membuat segala sesuatu menjadi semakin buruk. Perlahan Spider mulai mengambil alih kehidupan Fat Charlie, mulai dari pekerjaan hingga tunangannya. Akhirnya Fat Charlie memutuskan bahwa dengan cara apapun saudaranya, Spider, harus disingkirkan. Berhasilkah Fat Charlie menyingkirkan saudara kembarnya sendiri?

Neil Gaiman pantas mendapat pujian atas novel ini. Novel ini sungguh berbeda dari novel-novel yang lain. Dalam novel ini ia mampu menghadirkan suasana magis, mistis, dan romantis kehidupan dewa-dewa dan makhluk setengah dewa melalui sudut pandang modern. Buku ini menarik untuk dibaca, jadi tunggu apalagi?
  • Judul           : Anansi Boys
  • Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama
  • Pengarang : Neil Gaiman
  • Halaman    : 428
  • ISBN           : 978-979-22-3024-6

Read more »

Karena Indonesia Lebih Asyik Tanpa JIL!

 

 http://www.youtube.com/watch?v=lMbeTlMyNYk

Video yang ane post diatas ini, mungkin udah banyak yang nonton, banyak juga reaksi yang muncul, ada yang pro, ada yang kontra. Ane pribadi termasuk yang pro sama gerakan ini #IndonesiaTanpaJIL 

bagi kawan-kawan pembaca yang lain, boleh kok berpendapat masing-masing, monggo, post di comment ya.

jika videonya jelek, harap maklum, keterbatasan kapasitas komputer ane yang menyebabkan demikian. please enjoy. :D

Read more »

Kamis, 01 Maret 2012

Resensi: Martir Tuhan


Belajar itu membosankan, apalagi sejarah. Betul?

Ini pendapat yang lumrah di kalangan pelajar dan mahasiswa, maklumlah kita yang biasanya berpikiran futuristis, jauh ke masa depan tiba-tiba diminta menengok ke belakang untuk mempelajari sisa-sisa kejadian di masa lalu, berat bukan? Apalagi sejarah dunia.

Perang salib adalah satu sejarah dunia yang fenomenal. Perang ini berjalan lebih dari sembilan periode, yang mana setiap periodenya diwarnai kisah yang heroik, tragis, romantis dan tentunya fantastis. Perang ini lebih hebat daripada Perang Dunia 1 dan 2. Tentu saja, karena dalam perang salib ini hadir dua kekuatan terbesar yang pernah ada di dunia, yaitu kekuatan Islam melawan kekuatan Nasrani.

Novel ini membawa kita ke Eropa pada permulaan tahun 1100-an, dimana Paus Urbanus II mengeluarkan maklumat pada Konsili Clermont untuk mengangkat senjata, memerangi muslimin dan merebut kembali kota Jerusalem, kota suci tiga agama. Kontan saja para kesatria Nasrani yang terlibat konflik langsung berhenti dan menyamakan visi mereka, merebut kembali kota suci dan menyingkirkan kuku-kuku sultan dan khalifah muslimin dari kota itu. Itu adalah tugas suci bagi setiap jiwa yang mengaku seorang Nasrani. Tua, muda, kaya miskin, kesatria, budak, pendeta, semuanya turut serta dalam perang suci membela agama Tuhan.

Demikian pula kekhalifan Utsmani atau yang biasa disebut Ottoman, mereka pun berusaha mati-matian mempertahankan kepemilikan atas atnah Yerusalem. Namun sayang, belum kokohya ikatan diantara Muslimin pada masa itu menyebabkan Yerusalem lepas dari genggaman. Gempuran dari umat Nasrani yang sangat dahsyat membuat banyak korban berjatuhan.

Akhirnya harapan muncul dari Baghdad. Seorang atabeg bernama Imaduddin Zangi mencoba menyatukan kembali semangat Jihad muslimin yang sudah hancur, perlahan namun pasti daerah-daerah yang sudah dikuasai umat Nasrani dapat diambil kembali, diantaranya Edessa, Antiokh, dan kota-kota lain di sekitar Yerusalem.

Banyak nama-nama besar yang muncul dalam novel epik ini, diantaranya Godfrey, Imaduddin Zangi, Kaisar Alexius, Baldwin, dan lain sebagainya. Penulis novel ini, Muhammad B. Anggoro sangat hebat dalam menyajikan sudut pandang baik dari umat Nasrani maupun Muslimin. Pembaca dijamin akan mampu merasakan ketegangan, kehebatan, kesedihan maupun semangat juang para martir dan syuhada. Novel ini merupakan salah satu buku yang baik untuk dibaca, karena dengan membaca tanpa sadar kita juga belajar sejarah. Dua kata terakhir untuk novel ini: Sungguh Epik


  • Judul : Martir Tuhan
  • Pengarang : Muhammad B. Anggoro
  • Penerbit : DIVA Press
  • Halaman : 376
  • ISBN : 979-963-710-4

Read more »

Powered By Blogger