Selasa, 06 Maret 2012

Kita Tidak Sujud Di Tempat Yang Sama

Betapa kita sering sua, sering jumpa. Dalam setiap mimpi yang pernah kualami, pun dalam setiap canda yang kau lontarkan yang kau ceritakan. Bilamana mentari tenggelam pada hari kita jumpa, aku selalu menanti saat ia terbit lagi di hari baru pertemuan kita.

Tuhan itu satu, Tuhan itu sama, Tuhan itu Maha Satu, Maha Esa. Mana mungkin kita sembah Tuhan yang berbeda. Tuhanku, Tuhanmu, Tuhannya, Tuhan mereka, Tuhan kita, sama. Hanya lambang-lambang kita yang berbeda. Hanya ritual kita yang berbeda dan akal-akal yang diberikan Tuhan pada kita agar kita bisa memilih, jalan mana yang mau kita tempuh.

Dalam catatan kitab-kitab Tuhan yang diturunkan untuk kita berisi kisah-kisah yang bertautan. Satu sama lain, dari masa ke masa, dari nabi ke nabi. Ada benang merah yang menyatukan itu. Tinggal kita yang berpegang pada benang yang benar atau tidak. Tinggal kita yang beriman pada yang benar atau tidak.

Aku tunduk pada Tuhan kau pun tunduk pada Tuhan. Aku patuh pada Tuhan kau pun patuh pada Tuhan. Karena kepatuhan dan ketundukan ku Tuhan menyayangi ku. Dia pun menyayangimu karena kepatuhan dan ketundukanmu pada-Nya. Sayang beribu sayang, ketika kita tidak sujud dengan cara yang sama. Suatu hari nanti mungkin kau mau mempertimbangkan untuk ikut sujud kepada Tuhan dengan caraku, dengan cara kami.

Read more »

Sabtu, 03 Maret 2012

Resensi: Anansi Boys

Satu lagi buku novel yang ane resensi. Kali ini yang jadi pilihan adalah Anansi Boys karya Neil Gaiman. Novel ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada tahun 2007. Novel ini terbit di negeri asalnya, negerinya Om Sam alias Amerika pada tahun 2005. Buku ini merupakan spin-off alias cerita sampingan dari novel sebelumnya yang mendahului yaitu American Gods.

Diceritakan dalam buku ini adalah kehidupan seorang akuntan yang bernama Charles Nancy, namun ia lebih sering dipanggil Fat Charly. Dia bukan manusia biasa, karena sebetulnya dia adalah anak dari Anansi, dewa laba-laba dari mitologi Afrika. Fat Charly memiliki kehidupan yang monoton dan cenderung susah. Pekerjaannya di kantor yang merepotkan, bosnya, Tuan Grahame Coats yang menyebalkan, juga hubungannya dengan tunangannya Rossy yang boleh dibilang kurang berwarna.

Sampai pada suatu hari, seorang teman ayahnya memberitahukan kepadanya bahwa ia punya saudara kembar. Spider namanya. Tapi Fat Charlie tidak ingat bahwa dia punya saudara. Akhirnya pada suatu hari saudaranya itu benar-benar datang di apartemen Fat Charlie dan membuat segala sesuatu menjadi semakin buruk. Perlahan Spider mulai mengambil alih kehidupan Fat Charlie, mulai dari pekerjaan hingga tunangannya. Akhirnya Fat Charlie memutuskan bahwa dengan cara apapun saudaranya, Spider, harus disingkirkan. Berhasilkah Fat Charlie menyingkirkan saudara kembarnya sendiri?

Neil Gaiman pantas mendapat pujian atas novel ini. Novel ini sungguh berbeda dari novel-novel yang lain. Dalam novel ini ia mampu menghadirkan suasana magis, mistis, dan romantis kehidupan dewa-dewa dan makhluk setengah dewa melalui sudut pandang modern. Buku ini menarik untuk dibaca, jadi tunggu apalagi?
  • Judul           : Anansi Boys
  • Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama
  • Pengarang : Neil Gaiman
  • Halaman    : 428
  • ISBN           : 978-979-22-3024-6

Read more »

Karena Indonesia Lebih Asyik Tanpa JIL!

 

 http://www.youtube.com/watch?v=lMbeTlMyNYk

Video yang ane post diatas ini, mungkin udah banyak yang nonton, banyak juga reaksi yang muncul, ada yang pro, ada yang kontra. Ane pribadi termasuk yang pro sama gerakan ini #IndonesiaTanpaJIL 

bagi kawan-kawan pembaca yang lain, boleh kok berpendapat masing-masing, monggo, post di comment ya.

jika videonya jelek, harap maklum, keterbatasan kapasitas komputer ane yang menyebabkan demikian. please enjoy. :D

Read more »

Kamis, 01 Maret 2012

Resensi: Martir Tuhan


Belajar itu membosankan, apalagi sejarah. Betul?

Ini pendapat yang lumrah di kalangan pelajar dan mahasiswa, maklumlah kita yang biasanya berpikiran futuristis, jauh ke masa depan tiba-tiba diminta menengok ke belakang untuk mempelajari sisa-sisa kejadian di masa lalu, berat bukan? Apalagi sejarah dunia.

Perang salib adalah satu sejarah dunia yang fenomenal. Perang ini berjalan lebih dari sembilan periode, yang mana setiap periodenya diwarnai kisah yang heroik, tragis, romantis dan tentunya fantastis. Perang ini lebih hebat daripada Perang Dunia 1 dan 2. Tentu saja, karena dalam perang salib ini hadir dua kekuatan terbesar yang pernah ada di dunia, yaitu kekuatan Islam melawan kekuatan Nasrani.

Novel ini membawa kita ke Eropa pada permulaan tahun 1100-an, dimana Paus Urbanus II mengeluarkan maklumat pada Konsili Clermont untuk mengangkat senjata, memerangi muslimin dan merebut kembali kota Jerusalem, kota suci tiga agama. Kontan saja para kesatria Nasrani yang terlibat konflik langsung berhenti dan menyamakan visi mereka, merebut kembali kota suci dan menyingkirkan kuku-kuku sultan dan khalifah muslimin dari kota itu. Itu adalah tugas suci bagi setiap jiwa yang mengaku seorang Nasrani. Tua, muda, kaya miskin, kesatria, budak, pendeta, semuanya turut serta dalam perang suci membela agama Tuhan.

Demikian pula kekhalifan Utsmani atau yang biasa disebut Ottoman, mereka pun berusaha mati-matian mempertahankan kepemilikan atas atnah Yerusalem. Namun sayang, belum kokohya ikatan diantara Muslimin pada masa itu menyebabkan Yerusalem lepas dari genggaman. Gempuran dari umat Nasrani yang sangat dahsyat membuat banyak korban berjatuhan.

Akhirnya harapan muncul dari Baghdad. Seorang atabeg bernama Imaduddin Zangi mencoba menyatukan kembali semangat Jihad muslimin yang sudah hancur, perlahan namun pasti daerah-daerah yang sudah dikuasai umat Nasrani dapat diambil kembali, diantaranya Edessa, Antiokh, dan kota-kota lain di sekitar Yerusalem.

Banyak nama-nama besar yang muncul dalam novel epik ini, diantaranya Godfrey, Imaduddin Zangi, Kaisar Alexius, Baldwin, dan lain sebagainya. Penulis novel ini, Muhammad B. Anggoro sangat hebat dalam menyajikan sudut pandang baik dari umat Nasrani maupun Muslimin. Pembaca dijamin akan mampu merasakan ketegangan, kehebatan, kesedihan maupun semangat juang para martir dan syuhada. Novel ini merupakan salah satu buku yang baik untuk dibaca, karena dengan membaca tanpa sadar kita juga belajar sejarah. Dua kata terakhir untuk novel ini: Sungguh Epik


  • Judul : Martir Tuhan
  • Pengarang : Muhammad B. Anggoro
  • Penerbit : DIVA Press
  • Halaman : 376
  • ISBN : 979-963-710-4

Read more »

Kenangan

Sudah beberapa jam aku duduk di sini, di kursi nomor 24, kafe di sebelah perpustakaan. Aku ingat pertama kita jumpa dahulu, aku duduk di sini sendiri pada hari aku di pecat empat tahun lalu, mencoba mengingat dendam-dendam ku pada bos.

Semua bukan salah ku! Oke, memang beberapa kasus itu ku akui salah ku, tapi apakah rekanku yang lain tidak bersalah? Memangnya mereka malaikat yang selalu suci dari dosa? Kalau ingin menyingkirkan ku kenapa dulu bos terima ketika aku mengemis pekerjaan?

Lalu kau datang. Membawa nampan berisi secangkir kopi dan roti isi selai coklat.

"Ini gratis, aku yang traktir." Katamu, "tunggulah, shiftku sebentar lagi selesai."

Perjumpaan yang indah, tak kusangka Tuhan mengirimkan bahagia lewat tangan-tanganmu. Ya, memang hanya secangkir kopi dan sepotong roti, tapi itu sudah cukup untukku, mengetahui ada yang masih peduli padaku walau kita belum saling kenal.

Kulirik jam yang melingkar di tanganku, pemberian kakekku 15 tahun yang lalu, warisan keluarga katanya. Jam ini turun temurun melingkar di tangan ayah dan kakekku dan kakekknya lagi, entah sudah berapa generasi jam ini berpindah, tapi masih indah. Jarumnya menunjukkan pukul 22.35, tiga puluh menit lagi kafe akan tutup, tapi kau belum datang juga, apa kau lupa dengan janji kita?

Bukankah hari ini hari jadi kita? Hari yang sama ketika aku dipecat, namun hari yang sama pula di mana kita mengikat janji, tiga tahun yang lalu. Kekasihku, benarkah kau sudah lupa? Atau kau sedang bersembunyi di balik pintu masuk? Menunggu aku menyerah dan keluar, lalu kau menyambut ku dengan kecupan manis.

Di seberang meja kulihat Tuan Alfred, bosmu, membersihkan meja. Kulihat jamku lagi, 10 menit lagi kafe tutup. Aku mulai menyerah, mungkin kau sudah lupa dengan hari ini, mungkin kau punya kekasih baru, mungkin kau sudah tidak mau lagi denganku.

Kuseruput sisa kopi manis di cangkirku, rasanya berbeda dengan buatanmu, juga buatanku sendiri. Ini buatan Bertha. Kulirik lagi jam tanganku, 5 menit lagi kafe tutup. Aku bertekad akan tetap menunggumu di sini, sampai Tuan Alfred mengusirku seperti yang pernah terjadi satu bulan lalu. Ia marah-marah dan melempariku dengan apa pun yang dapat diraih tangannya, piring, cangkir, botol-botol kosong. Aku terpaksa lari.

Perlahan Tuan Alfred mendekat, aku bersiap untuk menepis apapun yang dilemparnya.

"Percuma Tuan, aku akan menunggu Maria di sini sampai ia datang." suaraku ku tegas-tegaskan agar ia takut

"Sudahlah Al, lupakan saja Maria, kau punya kehidupan, pulanglah."

Tanpa kuduga dia memegang pundakku dengan lembut, seperti seorang ayah yang menasihati anaknya agar menjadi seorang lelaki dewasa yang pemberani. Tanpa bentakan, maupun lemparan benda-benda seperti yang lalu.

Aku menyerah, aku bangkit perlahan dari kursi ku, lalu berjalan mengambil jaket yang ku gantungkan di sebelah pintu. Hari ini sungguh bersejarah bagiku, hari di mana aku mendapat kembali semangatku tiga tahun lalu, tapi hari ini juga aku kehilangan semangatku. Aku lupa bahwa hari ini dua tahun yang lalu, adalah hari aku kehilanganmu di suatu jalan yang dingin.

Read more »

Powered By Blogger